TIDUR SEKAMAR Atau TERPISAH Ya?

nakita.gif

Masing-masing ada plus-minusnya.


Indra Birowo (34), artis Extravaganza yang kocak itu memilih tidur terpisah dengan si kecil Arkananta (1;5). Ini dilakukannya sejak Arka lahir. “Saya pikir lebih baik sejak masih bayi dibiasain tidur sendiri. Ja-ngan menunggu dia sudah besar, lalu disuruh-suruh untuk tidur sendiri,” katanya.

Salah satu alasannya adalah agar Arka tak terlalu lengket. “Itu bukan berarti kita tak sayang atau bayi enggak perlu keberadaan kita. Pada intinya, saya ingin ia belajar mandiri. Toh, meski tidur terpisah kami tetap mengasuh dia dengan baik. Hanya dengan begitu, kami juga bisa mengurus kepentingan sendiri dan orang lain,” papar Indra serius.

Bagaimana dengan Anda? Apa pun pilihan Andamemilih tidur sekamar dengan bayi atau terpisahadalah sah-sah saja. Ini bukan soal salah benar. Yang perlu diketahui, baik tidur sekamar maupun terpisah tentu ada plus-minusnya.

TIDUR SEKAMAR

Bayi memang masih sangat memerlukan kelekatan (attachment) dengan orangtuanya. Nah, dengan tidur satu kamar atau satu ranjang, otomatis orangtua bisa mengeloni bayi. Dengan begitu, bayi merasa nyaman. Dari sini pun diharapkan basic trust (kepercayaan mendasar pada orang-orang terdekat) dapat terjalin dengan baik sehingga perkembangan kepercayaan diri (self esteem) anak juga baik. Self esteem berperan membentuk individu yang lebih baik atau utuh. Tidur sekamar atau seranjang pun membuat Anda bisa cepat memberi respons bila bayi menangis di tengah malam.

Masalahnya, bila perilaku tidur Anda atau pasangan cen-derung lasak (terutama para ayah nih), bisa saja tanpa sengaja lengan atau punggung menindih si kecil. Dengan orangtua model begini, bayi sebaiknya ditidurkan dalam boks. Agar tetap dekat, dekatkan atau sejajarkan boksnya dengan kasur Anda. Meski beda ranjang, si kecil masih bisa terpantau dan kebutuhan rasa nyamannya tetap terpenuhi.

Problem berikutnya, terkadang anak yang tidur sekamar dengan orangtuanya setelah besar akan sulit diminta tidur sendiri. Namun, kalau orangtua pandai menyiasati dengan bijak, anak tetap bisa diarahkan untuk bisa tidur sendiri. Bahkan, tanpa diminta atau “dipaksa” pun sebenarnya seiring pertambahan usia, ia akan memilih tidur di kamarnya sendiri. Yang perlu dipikirkan adalah privasi orangtua bila sekamar dengan anak.

PISAH KAMAR

Lantas, bagaimana dengan bayi yang tidurnya terpisah dari orangtua? Ternyata, bukan tidak mungkin si kecil tetap merasa aman dan nyaman. Toh, sebelum tidur, ayah dan ibu bisa menyempatkan diri berinteraksi dan berkomunikasi dengan bayi; menyusui, menemani sampai si kecil tertidur sambil dininabobokan, dielus-elus, dicium dan dipeluk terlebih dahulu. Dengan begitu, si kecil pun merasa nyaman.

Untuk memantau kondisi bayi di kamar sebelah, manfaatkan radio monitor yang akan memancarkan suaranya, terutama saat menangis. Usahakan kamar bayi dan kamar Anda saling berhubungan sehingga jika bayi terbangun dapat cepat ditangani.

Bila memutuskan tidur terpisah, sebaiknya siapkan segala sesuatu yang memungkinkan Anda tetap awas terhadap kondisi bayi di kamar sebelah. Semakin besar, bayi akan merasa cemas bila berpisah dari orangtuanya. Apalagi kalau dia terbangun di tengah malam tanpa segera didampingi orangtua yang bisa menenangkannya. Nah, Andalah yang menentukan, mau tidur seranjang dengan bayi atau pisah kamar.

Agar AMAN Tidur SEKAMAR

* Gunakan kasur yang kokoh atau tak terlalu lunak sehingga tak menyebabkan si kecil mendelep.

* Jangan menggunakan ranjang air karena kelewat lentur dan bisa menyebabkan bayi “terperangkap”.

* Bila bayi sudah lebih besar, sebaiknya turunkan kasur dari ranjang dan semuanya tidur di bawah untuk menghindari risiko terjatuh.

* Bila tidak sekasur/seranjang, tempatkan boks bayi sejajar dengan ranjang. Lalu, buka pagar boks serta ikat pada ranjang untuk menghindari si kecil tergelincir jatuh.

* Gunakan selimut seperlunya untuk mengurangi risiko menutupi wajah bayi. Pastikan pula bahan selimutnya lembut dan tak panas.

* Sebaiknya kontrol dulu keadaan atau posisi tidur bayi bila Anda meninggalkan tempat tidur, misalnya untuk ke toilet.

PLUS MINUS TIDUR SEKAMAR
  PLUS MINUS
BAYI
Lebih merasa aman dan nyaman karena selalu dikeloni.

Membangun kelekatan (attachment) dan basic trust.

– Berdasarkan penelitian, risiko mengalami SIDS (Suddent Infant Death Syndrome) lebih rendah.

Bila perilaku tidur orangtua lasak maka bisa mencederai bayi.

– Terkadang baru mau pisah kamar setelah bertahun-tahun kemudian.

– Privasi orangtua sering terusik.

ORANGTUA
Bisa cepat memberi respons ketika bayi menangis.

– Momen untuk lebih dekat dengan si kecil.

Bila hendak bercinta harus cari kamar/ tempat lain.

– Harus selalu memerhatikan posisi tidur agar tak menindih si kecil.

– Privasi sering terusik.

 

PLUS MINUS TIDUR TERPISAH
 
PLUS
MINUS
BAYI
– Belajar “mandiri” sejak dini karena terbiasa tidur sendiri.
– Kadang tak cepat mendapat respons bila menangis.
ORANGTUA
Tak perlu khawatir bila pola tidurnya grasah-grusuh.

– Tak perlu mencari kamar lain bila hendak berintim-intim.

– Tidak mengeloni setiap saat.

Konsultan ahli:

dra. Ratih Andjayani Ibrahim, MM.,

dosen Fakultas Psikologi Ukrida, psikolog di Personal Growth dan LPT UI.

Powered by ScribeFire.




    Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s



%d bloggers like this: