Tujuh Taktik Minum Obat

parent-guide.jpg

Meminumkan obat kepada bayi memang ‘susah-susah gampang’. Susah jika tidak tahu taktiknya, gampang jika sudah tahu.

Meminumkan obat kepada bayi kerap membuat kita – terutama yang baru pertama kali merawat bayi – ’senewen’. Bagaimana kalau bayi tidak mau buka mulut? Bagaimana kalau dimuntahkan? Bagaimana kalau tumpah-tumpah terus? Bagaimana kalau takarannya kurang atau kebanyakan?

Yang membuat orangtua tambah repot, beberapa obat tak cukup diberikan sekali sehari. Tapi dua, tiga, bahkan empat kali sehari! Itu sama saja dengan ’senewen’ lebih dari sekali sehari, bukan?
 
Tahu Taktik = Lebih Tenang dan Pede
Bayi adalah makhluk yang amat perasa. Ia akan gelisah, uring-uringan dan rewel jika kita ada di dekatnya dengan perasaan gelisah, marah atau sedih. Bahkan jika kita tidak percaya diri saat merawat mereka sehari-hari – menggantikan popok, memandikan, menggendong – mereka juga bisa ‘membaca’nya. Pernahkah Anda merasa bayi sulit diajak bekerja sama, seolah mereka tidak percaya kepada kemampuan kita?
 
Meminumkan obat kepada bayi memerlukan konsentrasi serta tindakan yang tepat – bahkan juga harus cepat (“Segera suapkan obat begitu bayi sedang membuka mulutnya – tapi hati-hati jangan sampai masuk hidung!”). Ini sungguh tidak mudah jika kita tidak mampu bersikap tenang dan percaya diri.
 
Mengetahui beberapa taktik sebelum meminumkan obat kepada bayi, ibarat maju ke medan perang dengan strategi dan amunisi handal, atau masuk ruang ujian setelah kita mempersiapkan diri sebaik mungkin jauh hari sebelumnya. Kita jadi lebih tenang, dan percaya diri. Jika kedua hal ini sudah kita miliki, niscaya kita lebih mudah berkonsentrasi dan bertindak cepat dan tepat. Berikut ini tujuh taktik seputar meminumkan obat kepada bayi:

  1. Jika bayi tak mau membuka mulutnya, kita bisa memanfaatkan refleks ‘mencari puting’ (rooting reflex) pada bayi-bayi yang masih muda. Jika ada sesuatu menyentuh pipinya, bayi biasanya secara spontan akan menoleh untuk mencarinya, dengan mulut terbuka. Begitu bayi membuka mulut, masukkanlah obat ke dalamnya sambil membujuk bayi, “Maaf ya Sayang, minum obat dulu. Habis ini baru menyusu…” Cara lainnya adalah mengalihkan perhatian bayi sehingga tanpa sadar mau membuka mulut. Hindarkan ‘menjejalkan paksa’, karena bisa membuat bayi trauma minum obat.
  2. Jika bayi selalu menangis dan meronta-ronta saat akan diminumkan obat, tenangkanlah dulu dengan menggendong, mengelus, mengusap-usap, mengajak bicara, melihat-lihat pemandangan, bermain atau cara apa saja yang efektif (untuk masing-masing bayi mungkin tidak sama). Setelah tenang, barulah kita mencoba menyuapkan obat ke mulut bayi. Cara lainnya adalah meminumkan obat saat bayi tidak begitu alert (siaga) – misalnya saat ia agak mengantuk – lalu ciptakan situasi yang menyenangkan untuk bayi agar alam bawah sadarnya merekam bahwa ‘minum obat itu menyenangkan’. Hindarkan memaksa menyuapkan obat saat bayi menangis atau meronta, karena berisiko tersedak.
  3. Jika bayi tidak mau menelan obat, cobalah meniup lembut wajahnya setelah memberinya obat. Biasanya spontan bayi akan mengerjapkan mata dan menelan. Kita juga bisa mencampurkan obat ke dalam makanan atau minuman bayi, tapi tanyakan dulu kepada apoteker pengaruh pencampuran makanan atau cairan terhadap daya kerja obat. Ada kalangan medis yang tidak menyarankan ini karena kuatir bayi tidak mendapat obat sesuai dosis jika tidak menghabiskan makanan/minumannya.
  4. Jika bayi memuntahkan obat, maka kemungkinan bayi tidak menyerap cukup obat (sesuai dosis). Untuk itu, ada kalangan medis yang membolehkan mengulangi pemberian obat dalam dosis penuh. Alasannya, kebanyakan obat – termasuk antibiotik dan asetaminofen – aman diulangi pemberiannya dalam dosis penuh. Namun ada juga yang  melarang pengulangan dosis dan lebih menyarankan kita segera menghubungi dokter.
  5. Jika bingung menentukan dosis, jadikanlah berat badan bayi sebagai patokan – bukan semata-mata usianya. Carilah informasi pada kemasan obat tentang dosis pemakaian obat per satuan berat badan. Jika informasi tersebut tidak ada, tanyakan kepada apoteker.
  6. Jika bayi sering menumpahkan obat dari sendok obat, cobalah menggunakan syringe (penyemprot) yang takarannya telah dikalibrasi, pipet plastik, sendok yang gagangnya merupakan tabung silinder penakar, atau cangkir penakar. Jika memakai penyemprot yang ada tutup kecil di ujungnya, hati-hati tertelan bayi – jauhkan dari jangkauan anak. Hindarkan memakai sendok atau cangkir biasa untuk menakar (untuk memberikan obat boleh saja, selama sudah ditakar dengan alat penakar yang benar).
  7. Jika bayi baru saja minum obat bebas, kita mungkin ragu: boleh atau tidak ia diberi obat resep? Untuk itu, kita perlu memeriksa apakah ada kandungan yang sama dalam kedua jenis obat tersebut. Jika bayi baru kita beri obat demam, lalu dokter memberi penurun panas, maka ada kemungkinan kedua jenis obat ini mengandung asetaminofen, sehingga mengkonsumsinya dalam waktu nyaris bersamaan berisiko kelebihan dosis. Kita juga perlu memeriksa apakah ada zat yang tidak bisa berinteraksi dengan baik dalam masing-masing obat. Pastikan kita menanyakan hal-hal penting ini kepada apoteker. 

Nah, taktiknya sudah di tangan. Ayo coba lagi meminumkan obat untuk si kecil! PG

==========================================================================

  • Jika Bayi Masih Menyusu Eksklusif
    Kita mungkin kuatir ASI akan melemahkan khasiat obat (seperti halnya susu menawarkan racun). Namun dalam hal ini dr. Utami Roesli, SpA, MBA, IBCLC dari Sentra Laktasi Indonesia mengatakan bahwa pengaruh ASI terhadap obat-obatan yang diperuntukkan bagi bayi prinsipnya seperti zat alami terhadap sintetis (buatan)-nya. “Tidak mengganggu, bahkan membantu.”



    Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s



%d bloggers like this: