‘Post-Partum Depression’ : Bila Bahagia Berubah Menjadi Benci

parent-guide.jpg

Bayi yang telah lama dinanti baru saja lahir ke dunia. Ia disambut dengan suka cita oleh suami, orangtua, saudara, dan teman. Semua orang merayakannya, kecuali Anda!

Bayi yang telah lama dinanti baru saja lahir ke dunia. Ia disambut dengan suka cita oleh suami, orangtua, saudara, dan teman. Semua orang merayakannya, kecuali Anda!

Suatu hari, seorang gadis kecil bermimpi menjadi seorang ibu. Keinginannnya sangat besar, melebihi apapun sehingga ia sangat yakin mimpinya bakal menjadi kenyataan. Gadis cilik itu pun tumbuh dewasa dan bertemu dengan ‘Pangeran Tampan’. Sayang, ia memiliki masalah kesuburan. Mendapatkan buah hati tak semudah mimpinya dulu. Beragam terapi kesuburan panjang pun ia jalani. Hingga suatu hari, akhirnya ia hamil. Sembilan bulan berlalu dengan nyaman, buah hati yang telah lama dinanti pun lahir. Mimpinya pun menjadi kenyataan. Tetapi, bukannya bahagia, ia justru menangis.

Ia sendiri pun bingung, mengapa kegembiraannya terusik oleh perasaan yang membuatnya sangat sulit berada di dekat Rowan, gadis mungilnya. Itulah kisah nyata seorang Brooke Shields, artis ternama Hollywood yang dituangkan dalam buku “Down Came The Rain: My Journey Through Post Partum Depression”. Brooke harus berjuang mengusir depresi, setelah melahirkan Rowan.

Bukan Baby Blues

Memang, sekitar 80 persen ibu baru akan mengalami perasaan tak menentu usai persalinan (baby blues). Selama 5 sampai 12 hari ibu akan sering menangis, cemas, terlalu peka atau kesulitan tidur. Tapi bila kondisi ini berlangsung lebih dari dua minggu, ada kemungkinan ibu mengalami depresi pasca persalinan (post-partum depression). Satu dari sepuluh ibu baru, akan mengalami ini. Depresi jenis ini termasuk penyakit biologis yang disebabkan oleh perubahan hubungan (koneksi) di dalam otak. Gejalanya seperti hilang mood sepanjang hari (berlangsung setiap hari) dan berlangsung selama minimal 2 pekan.

Jika Anda menderita depresi pasca persalinan, Anda biasanya kehilangan minat atau motivasi selama beraktivitas yang biasanya Anda sukai. Berikutnya, muncul kelelahan, tak bisa beristirahat, merasa bersalah atau tak berharga, sulit berkonsentrasi, sulit tidur, bahkan muncul keinginan untuk bunuh diri. Selain itu, Anda pun sangat mencemaskan kesehatan si kecil. Menurut Dr. Diane G. Stanford, psikolog klinis penulis buku “Postpartum Survival Guide”, banyak wanita yang tak menyadari adaya depresi pasca persalinan saat gejalanya mulai muncul.

Beragam Faktor

Penyebab depresi belum diketahui secara pasti. Ada yang menganggap faktor perubahan hormon sebagai biang keladinya. Kadar hormon estrogen dan progesteron di dalam aliran darah dan otak menurun drastis beberapa jam setelah kelahiran. Di sisi lain, hormon prolaktin (untuk persiapan menyusui) meningkat dan hormon yang dihasilkan kelenjar gondok dan adrenal juga berubah-ubah.

Semua perubahan hormon tersebut, tambah Diane, mempengaruhi neurotransmiter otak yang akhirnya berdampak pada kondisi emosi. Semua wanita yang baru saja melahirkan pasti mengalami perubahan hormon. Pada beberapa wanita yang terkena depresi, itu boleh jadi karena tubuh terlalu peka dengan perubahan. Sementara tubuh sedang mengembalikan ‘keseimbangannya’.

Namun para ahli percaya depresi pasca persalinan tidak hanya dipicu oleh perubahan hormon. Kombinasi faktor genetik, psikologi, dan fisiologis pun bisa menimbulkan depresi. Hal ini didukung oleh beberapa fakta, sebagian besar mereka sebelumnya pernah mengalami depresi . Atau ada kerabatnya yang juga menderita depresi. Beberapa penelitian tengah digalakkan untuk mengetahui kemungkinan masalah sosial dan biologis sebagai penyebab depresi pasca persalinan. Apalagi pada ibu-ibu yang pernah mengalami depresi pasca persalinan sebelumnya, depresi akan berulang pada kelahiran berikutnya (berisiko sekitar 25%).

Segera Atasi

Untuk mengurangi risiko terjadinya depresi, para ahli menyarankan untuk mewaspadai terjadinya bipolar disorder atau berubahnya mood secara drastis, selama kehamilan. Segera konsultasi ke dokter bila saat hamil Anda mengalami dua hal itu. Namun, bila depresi itu datang setelah bayi lahir, segera atasi. Sebab dampaknya bakal dihadapi bayi. Anda yang tengah depresi tentu takkan sempat merawat dan mengasuh bayi. Padahal si kecil butuh berinteraksi dengan Anda, ibunya.

Hasil penelitian menunjukkan dampak negatif itu akan menetap hingga masa kanak-kanak. Kondisi depresi akan mempengaruhi tugas tumbuh-kembang anak. Mereka tumbuh dan berkembang lebih lambat dibanding anak lainnya. Beberapa dampak itu misalnya mempengaruhi kemampuan anak untuk berinteraksi dengan anak lain, atau anak memiliki masalah perilaku dan belajar. Karenanya, langkah identifikasi dan pengobatan depresi pasca persalinan harus sesegera mungkin dilakukan.

Dengan perawatan (terapi biasa atau plus obat anti-depresan), kondisi Anda semakin baik dalam satu atau dua bulan. Setelah enam atau delapan bulan tingkat kesembuhan biasanya akan meningkat cukup berarti. Cara pengobatan dengan terapi juga cukup efektif. Agar lebih tepat dan efisien, temui psikiater yang pernah menangani depresi pasca persalinan. Sebab ini bukan depresi biasa dan membutuhkan penanganan yang bersifat edukatif, dukungan, dan praktik. Tapi jangan pula berpikir depresi segera hilang. Sebab prosesnya bertahap. Percaya saja satu hal, setelah Anda ‘kembali’, Anda akan menjadi lebih kuat, lebih ringan tangan, dan Anda pun akan menjadi seorang ibu yang lebih baik. PG

 

 ——————————————————————————————————

Tips Mencegah Depresi

1.       Belajar untuk lebih santai dan tenang.

2.       Berusaha untuk tidur saat bayi tidur.

3.       Sediakan waktu untuk berolahraga.

4.       Jangan terlalu berharap menjadi orangtua yang sempurna.

5.       Jangan ragu untuk meminta bantuan orang lain.

6.       Hilangkan rasa takut dengan berbicara dengan suami.

7.       Pikirkan bahwa menjadi ibu seperti proses perubahan karir.

8.       Bersikap lebih fleksibel. 

——————————————————————————————————




    Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s



%d bloggers like this: