MENYAMBUT “TAMU MUNGIL” DI RUMAH

nakita.gif Menang, haru, dan cemas campur aduk menjadi satu. Bagaimana agar ibu tak letih?

Di balik rasa gembira yang meluap mensyukuri kedatangan si kecil, biasanya terselip rasa cemas tentang kesibukan baru yang menunggu. Ya, “tamu” yang satu ini memang kecil tetapi dibutuhkan energi yang besar untuk merawat dan melayaninya. Dari mana datangnya energi itu? Tentu saja dari rasa bahagia kedua orangtuanya. Tapi asal tahu saja, rasa bahagia bisa luntur oleh tidak mulusnya penyesuaian situasi baru di rumah. Nah, agar prosesnya berjalan mulus, Anda perlu tahu caranya. Pasti bisa, deh.

SUSUI BAYI TIAP KALI MINTA

“Aduh, si kecil dikasih susu apa ya sama suster? Berarti aku harus punya stok, dong.” Please deh, ibu kan punya pabrik ASI, jadi kenapa harus pusing memikirkan stok susu segala? Malah, selama dirawat di rumah bersalin, bayi amat dianjurkan tidak diberi susu selain susu ibunya. Jadi, berikan ASI tanpa asupan lain (eksklusif). Ibu tak perlu repot menyediakan botol steril, atau mengatur jadwal menyusui. Susui kapan pun bayi menginginkannya (on demand) di tempat tidur atau di kursi yang lebar dan empuk dengan bantal-bantal. Nikmati proses menyusui si kecil sebagai hak eksklusif seorang ibu. Adakalanya Anda sampai menangis haru melihat kegigihannya mengisap puting.

Umumnya bayi baru lahir minta menyusu ASI setiap 1,5-2 jam. Ini karena ASI lebih mudah diserap sehingga lambung jadi cepat kosong. Apa kodenya? Bayi menangis karena lapar. Kalau salah satu sudut bibirnya kita sentuh, ia akan menoleh ke arah situ sebagai refleks mencari puting. Kode lainnya, bayi mungkin seperti memainkan lidah atau tangannya disentuhkan ke mulut. Nah, saat itu segeralah susui si kecil. Bagilah kebahagiaan kala menyusui dengan suami agar ia merasa terlibat. Alhasil, ibu juga akan merasa lebih tenang dan bahagia. Kondisi nyaman seperti ini akan meningkatkan refleks produksi oksitosin sehingga pengeluaran ASI makin lancar.

PAHAMI TANGISANNYA

Biasanya bayi sering menangis pada minggu-minggu pertama, baik siang maupun malam. Jangan khawatir, tak lain karena ia masih berada dalam fase penyesuaian dari dalam kandungan ke dunia luar. Lagi pula, menangis adalah satu-satunya cara “berkomunikasi” yang ampuh untuk menarik perhatian orangtuanya.

Umumnya para ibu mengartikan tangis bayi sebagai tanda lapar, padahal menangis tak selalu identik dengan lapar. Jadi, mulai sekarang belajarlah untuk mengenali nada tangisnya dengan cermat. Gerakan tubuh yang menyertai tangis dapat membantu Anda lebih memahami apa maksudnya. Makin keras suaranya dan makin lama tangisnya berarti makin kuat kebutuhannya. Jika tangisnya melengking kesakitan, mungkin si bayi mengalami kolik. Baringkan miring dengan lengan kanan di bawah sampai ia kentut. Kalau perlu selipkan guling kecil di antara kedua kakinya.

KENALKAN SITUASI RUMAH

“Hai sayang, ini Ibu, ini Ayah,” kenalkan bayi pada lingkungan barunya dengan bahasa ibu dan bahasa tubuh. Pola “pembicaraan” awal akan memengaruhi keterampilannya dalam berkomunikasi, terutama kemampuan menjalin hubungan dengan ibu. “Pembicaraan” antara si kecil dan sang ibu umumnya dimulai saat keduanya pertama kali melakukan sentuhan kulit beberapa saat setelah dilahirkan. Pada masa awal ini, hal utama yang dibutuhkan adalah berdekatan dengan sang ibu untuk mendapatkan rasa aman.

Selanjutnya, biasakan “ngobrol” dengan si kecil setiap kali orangtua beraktivitas bersamanya. Inti percakapan ini bertujuan mengenalkan lingkungan barunya. Begitu tiba di rumah, katakan, “Ini rumahmu Sayang,”; “Kita tidur di kamar ini, ya,”; “Ini bak mandimu. Ibu akan memandikanmu dengan sabun wangi,”; “Enak ya, Dek, mandi. Segar deh,” dan seterusnya. Atau ketika nenek ikut membantu merawatnya di rumah, ucapkan, “Ini nenek yang akan bantu Ibu mengurus kamu untuk sementara waktu.” Begitulah seterusnya agar bayi segera mengenali lingkungannya dan lebih mudah beradaptasi.

RAWAT BAYI DENGAN MANTAP

* Mandikan

Kita butuh mandi dua kali sehari, begitu pula bayi. Namun, memandikan bayi sering “menakutkan” bagi ayah dan ibu baru. Padahal tak perlu kelewat khawatir seperti itu. Lakukan saja seperti yang diajarkan bidan di tempat bersalin. Jangan lupa, siapkan dulu segala sesuatunya sebelum melepas baju bayi agar ia tak kedinginan. Mandikan bayi pagi dan sore hari pada jam yang teratur untuk menanamkan kebiasaan baik.

* Ganti Popoknya

Mengganti popok (apakah popok sekali pakai atau popok kain yang dapat dicuci) harus Anda lakukan dari waktu ke waktu demi kebersihan si bayi. Sama sekali tidak sulit jika dilakukan dengan mantap. Sebelum memakai popok baru, bersihkan kelamin bayi dengan kapas basah. Gunakan popok berbahan lembut dan berukuran pas.

 * Rawat Tali Pusatnya

Merawat tali pusat merupakan bagian yang paling mengerikan dari serangkaian ritual membersihkan bayi. Padahal sebelum lepas (puput) tali pusat ini harus selalu bersih agar tidak terinfeksi. Cukup gunakan kapas dan air hangat untuk membersihkan lipatan di bagian dasarnya. Keringkan. Turunkan sedikit bagian atas popok agar tidak bersentuhan dengan tali pusat. Biarkan terkena udara segar sesering mungkin. Jangan pernah sengaja menarik-nariknya atau mencopotnya karena pasti akan copot sendiri setelah 5-10 hari. Bersihkan setiap kali mandi.

* Potong Kuku Jarinya

Kadang bayi lahir dengan kuku jari yang lumayan panjang. Menjadi masalah bila mereka menggaruk tubuhnya, terutama wajahnya. Gunakan gunting khusus saat memotong kuku bayi agar terhindar dari perlukaan sekecil apa pun. Lakukan saat bayi tidur.

SISAKAN TENAGA

Menyusui dan merawat bayi baru pasti menyisakan rasa lelah yang luar biasa. Kurang tidur dan rasa letih setelah bersalin saling bertumpuk dan mungkin membuat ibu merasa tak berdaya. Keinginan untuk merawat bayi tidak diimbangi dengan kebugaran. Akibatnya, bisa terjadi ketegangan antara ibu dan bayi. Tangisan si kecil langsung membuat ibu merasa berat dan uring-uringan.

Agar tidak sampai seperti itu, ibu harus menghemat tenaga. Caranya, bagilah tugas mengasuh dan merawat bayi dengan ayah. Kecuali menyusui, urusan mengganti popok, memandikan, dan mengajak bermain bisa dilakukan oleh ayah, bukan? Begitu pula urusan merawat kakak si bayi kalau ada.

AKUI KALAU SEDANG BABY BLUES

Di sela-sela kebahagiaan menerima si tamu mungil, kadang muncul perasaan asing terhadap peran sebagai ibu yang harus menyusui, bangun tengah malam, dan tetek bengek lainnya. Baik sebagai ibu bagi anak pertama, kedua, dan seterusnya. Kewajiban mengurus bayi dan keluarga dirasa bagai beban yang menjauhkan ibu dari kehidupan normal. Jika bayi rewel, emosi mudah terpicu dan ibu makin stres. Sementara, kondisi fisik pun belum pulih. Perasaan asing dan berat sering kali membuat ibu sedih, murung, dan gampang menangis oleh sebab yang tidak jelas. Inilah depresi pascalahir yang sering disebut baby blues.

Jika benar mengalaminya, Ibu tak perlu malu mengaku. Mintalah bantuan suami untuk membantu mengatasinya. Mungkin ia punya ide membawakan CD baru band kesukaan ibu, memesan makanan favorit, makan es krim berdua, berdansa di kamar bayi dengan lagu nina bobok, atau mengajak ibu jalan-jalan sore sebentar selama si bayi tidur. Curilah waktu untuk bersenang-senang di sela-sela kewajiban mengurus bayi. Yakinlah, hidup harus tambah bahagia dengan kehadiran si kecil, bukan malah sebaliknya.

ATUR LAGI POLA BERINTIM-INTIM

Kehadiran bayi akan mengubah ritme keintiman suami-istri. Selama masa nifas (sampai 40 hari setelah melahirkan) bahkan suami-istri amat dianjurkan untuk tidak berhubungan intim. Selain karena fungsi hormonal tubuh ibu belum aktif bekerja, sanggama tak lama sesudah persalinan bisa menyebabkan infeksi pada jalan lahir. Jangan khawatir, ekspresi kasih sayang pasti dapat dilakukan dengan cara lain.

(sumber: Now The Baby Is Home; William Sears, M.D & Martha Sears, R.N; Thomas Nelson Publishers; Connecticut, USA; 2001)




    Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s



%d bloggers like this: