“BIARKAN AKU SENDIRI!”

nakita.gif

Sesekali, main sendirian banyak manfaatnya, lo.


Coba, deh, amati yang dilakukan bayi ketika kita tidak menemaninya. Biasanya, ia akan sibuk bermain dengan kakinya yang menendang-nendang di udara. Atau dengan tangannya ia seolah-olah ingin menggapai mainan yang tergantung di atas tempat tidurnya. Kalau mainannya bergerak ke kiri dan kanan, biasanya ia lantas tersenyum sendiri.

Menyaksikan semua itu, sebagai orangtua kita pasti bahagia sekaligus gemas lalu segera menghampirinya. “Iya, Sayang. Itu kakimu! Ayo tendang-tendang lagi. Aduh pintarnya anak Mama. Kalau besar mau seperti David Beckham ya? Ini jari-jari kakimu yang mungil. Coba kita hitung sama-sama yuk, satu, dua, tiga, empat, lima.”

Jika si kecil kelihatan cuek, orangtua berinisiatif memegang kaki bayinya lalu “membantu” menendang-nendangkannya. Tapi jangan heran kalau ajakan bermain ini justru memunculkan tangisan bayi yang melengking karena merasa kesendiriannya terusik. Ini menunjukkan, sesekali bayi juga ingin sendirian saja.

RAMBAH “DUNIA”

Saat bermain sendiri, sebenarnya bayi sedang mengeksplorasi dunia di sekitarnya. Bagi bayi yang masih berbaring, mainannya adalah anggota tubuhnya sendiri dan benda-benda yang teraba serta terlihat olehnya. Rasa ingin tahunya membuat si kecil begitu asyik dengan permainannya. Makanya ia terlihat bersemangat melakukannya berkali-kali untuk melihat bagaimana hasilnya. Kalau rasa ingin tahunya terpuaskan, ia akan tersenyum senang atau mungkin tertawa terkekeh.

Tempat tidur merupakan area yang amat menyenangkan untuk bermain. Meski terbatas, tapi sudah cukup memuaskan. Oleh karenanya, kalau ia tak menangis saat bangun tidur, Anda tak perlu buru-buru mengangkatnya. Biarkan ia sendirian sejenak dan saksikan betapa cepat dan mudahnya si bayi menemukan keasyikan sendiri. Mengamati tirai jendela yang bergerak-gerak karena angin boleh jadi buat Anda merupakan hal yang biasa-biasa saja. Tapi di mata bayi, gerakan itu amat menakjubkan.

Rentang waktu perhatian bayi pada “mainan” umumnya sangat singkat. Paling lama 5 menit, itu pun bila ia tidak lapar, lelah, kepanasan ataupun popoknya basah. Seiring dengan bertambahnya usia, rentang perhatiannya juga akan semakin lama. Berangkat dari pengalaman sehari-hari, orangtua bisa belajar, kapan saatnya si kecil butuh bermain bersama ayah dan ibu, dan kapan pula waktunya dia ingin sendiri.

ANTIBOSAN

Dengan memberi kesempatan bermain sendirian berarti Anda telah mengajari si kecil satu hal penting, yaitu bagaimana menciptakan kesenangan sendiri tanpa bergantung pada orang lain. Dengan begitu, ia terlatih untuk mampu mengusir rasa bosan yang sering muncul di masa batita dan prasekolah. Di saat sendiri pun, bayi belajar merasakan sensasi yang bisa mengasah keterampilan merasakan dan mengukur kekuatan tubuhnya.

Sebagai catatan, rasa bosan merupakan reaksi normal manusia yang muncul saat melakukan kegiatan itu-itu saja. Memang tak semua anak mudah merasa bosan, sebab ada juga yang memiliki ambang batas kejenuhan cukup tinggi. Terlepas dari ambang batas ini, setiap anak harus terampil memotivasi diri, bermain dan belajar sendiri jika tidak ada yang menemani, serta bekerja secara mandiri jika tidak ada yang membantu.

Oleh karena itu, meski si kecil butuh digendong, distimulasi, dan ditemani, ia juga perlu belajar berani sendirian. Jangan sampai, karena selalu ditemani dan diajak bermain, ia menganggap kesepian, kesendirian, dan rasa bosan sebagai sesuatu yang menakutkan. Lantas ia akan selalu “berteriak” minta ditemani.

Jelas, kemampuan menciptakan keasyikan seorang diri tak dapat tergantikan oleh mainan yang menyenangkan sekalipun. Keterampilan ini menjadi semacam alat antibosan yang ampuh membantu anak-anak ketika dihinggapi rasa jenuh. Dengan begitu, masa kanak-kanak maupun masa dewasa akan dilewatinya sebagai masa penuh kebahagiaan.

MAIN SENDIRI

* Di tempat tidurnya, bayi bisa bermain dengan tangannya (mulai usia 2 bulan bayi dapat mengepal dan membuka telapak tangannya), menendang-nendangkan kaki, atau mengamati mainan gantungnya.

* Berikan “cermin” antipecah dari bahan plastik atau mainan bunyi-bunyian yang dapat digenggam. Biarkan bayi mengenali sosok bayangan di cermin dan menggoyang-goyangkannya.

* Jika bayi sudah dapat berguling dan merangkak, taruhlah beberapa mainan di sekelilingnya. Bila bosan dengan mainan yang satu, ia akan beringsut mengambil lainnya.

* Kalau bayi sudah mulai mengoceh (babbling) biasanya di saat sendirian dia pun akan mengoceh. Biarkan ia “ngobrol‘” dengan dirinya sendiri sejenak. Buat kita, bukankah bernyanyi-nyanyi kecil sendirian juga cukup mengasyikkan?

Menurut sebuah penelitian yang dilakukan Centre For Gerontology di Baltimore, USA, para manula yang tetap aktif dan mandiri akan terlihat awet muda. Biasanya karena mereka mampu menemukan hal-hal menyenangkan untuk dilakukan dan dinikmati sendiri. Hal ini tentu akan mudah dilakukan bila sedari kecil orangtua terbiasa memberi kesempatan pada anaknya untuk memiliki waktu sendirian. Momen ini memungkinkan anak melakukan kegiatan seorang diri yang menyenangkan.

RAMBU-RAMBU

* Meski sendirian itu perlu, jangan lantas membiarkan bayi sendirian terus-menerus.

* Berilah respons begitu bayi kelihatan bosan, gelisah, atau menangis.

* Pastikan bayi berada di tempat yang aman meski sendirian.

* Bila si kecil sudah mampu berguling atau merangkak, bermainlah hanya di kamarnya atau di kamar Anda. Lapangkan kamar dengan cara menyingkirkan barang-barang yang tak perlu.

* Kalau bayi sudah bisa duduk, dudukkan pada kursinya. Kenakan sabuk pengaman. Berikan mainan atau buku favoritnya agar ia bisa asyik sendiri.

* Anda boleh berada di ruangan yang sama sambil membaca, bekerja di komputer, atau menyiapkan makanannya. Apalagi di usia 6-9 bulan biasanya bayi sudah menyadari keberadaan orang-orang di sekitarnya. Jadi, meski kelihatan asyik bermain sendiri, bisa saja ia langsung menangis ketika Anda beranjak meninggalkannya.

* Jangan lalaikan pengawasan. Pastikan si bayi tidak kekurangan suatu apa pun.

(sumber: Baby 411: Clear Answers & Smart Advice for Baby’s First Year; Ari Brown.M.D.; Bantam Books, USA, 2004)

Konsultan ahli:

Ergin Indera Laksana M.Psi.,

psikolog dan direktur program Kids Grow di Jakarta




    Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s



%d bloggers like this: