‘Be Happy with Your Shape’

parent-guide.jpg

Perubahan bentuk tubuh selama kehamilan tak mungkin dihindari. Bagaimana agar ibu hamil bangga dengan tubuh barunya?

Kehamilan membuat seorang wanita mengalami banyak perubahan, termasuk kondisi emosionalnya. Seperti yang dialami Widia (28 tahun). Ia sangat kagum, senang, dan gembira. Di sisi lain, ia merasa sangat buruk. Badannya yang semula langsing menjadi bengkak bak penabuh drum. Beda dengan Widia, awalnya Mira kurus. Bobotnya hanya naik 5 kg selama trimester pertama. Tapi di akhir kehamilan bobotnya bertambah 20 kg. Perutnya yang semula rata menjadi buncit, lengan dan pahanya juga bertambah besar. “Kehamilan tak lagi menakjubkan,” ujar Mira.

Kuncinya : Cintai Diri Anda

Mencintai diri sendiri akan membantu ibu hamil menjalani sembilan bulan masa kehamilan, termasuk perubahan fisik dan emosi, dengan positif. Memiliki imej positif terhadap tubuh bukan pada penampilan, tapi lebih pada cara Anda memandang diri sendiri. Hal ini sangat penting, karena Anda tak bisa mengendalikan perubahan bentuk tubuh. Selain itu, sikap ini juga membantu Anda untuk lebih memahami penyebab terjadinya perubahan.

Perubahan bentuk tubuh terjadi setelah sel telur dibuahi dan menempel di dalam rahim. Perubahan ini disebabkan oleh pertumbuhan dan perkembangan janin. Ketimbang kecewa, akan lebih positif bagi Anda jika kondisi baru ini ‘dirayakan’. Jadikan perubahan ini sebagai motivasi untuk bersiap menghadapi persalinan. Sehingga kehamilan pun menjadi masa yang sangat menyenangkan.

Sayangnya, tidak semua wanita mengawali kehamilan dengan self-image yang sehat. Akibatnya, mereka tak merasa nyaman dengan diri sendiri. Mereka membutuhkan banyak dukungan dari teman dan keluarga menghadapi periode yang penuh tantangan ini.

Bagaimana?

Kehamilan dapat membuat seorang wanita sangat mencintai tubuhnya atau justru sebaliknya ; membenci tubuhnya. Jika Anda masuk ke dalam kategori kedua, ada beberapa hal yang bisa Anda lakukan. Sebagai langkah awal, berikan kesempatan bagi diri sendiri untuk merasa senang sekaligus frustasi menghadapi perubahan tubuh. Setelah itu, gunakan strategi berikut untuk ‘merayakan’ tubuh baru.

1. Pahami Kenaikan Bobot

Selama trimester pertama biasanya terjadi peningkatan bobot tubuh sekitar 0-3 kg dan diikuti kenaikan sebesar 10-15 kg hingga usia kehamilan sembilan bulan. Tetapi beberapa ibu hamil mengalami peningkatan berat badan lebih dari angka itu. Ketahuilah perubahan tubuh dipengaruhi oleh beberapa faktor, bukan hanya kehamilan. Misalnya, tinggi badan, keturunan, dan pengukuran selama kehamilan. Selama dokter tidak mengingatkan Anda soal kenaikan berat badan, Anda tak perlu cemas.

2. ‘Gerakkan’ Tubuh


Olahraga bisa membuat Anda merasa lebih baik. Kelelahan bisa berkurang dan proses penyembuhan setelah persalinan menjadi lebih cepat. Ada beberapa hal yang sebaiknya Anda ingat. Konsultasikan dengan dokter sebelum Anda mulai berolahraga, perbanyak minum, dan jangan berlatih terlalu berlebihan. Jika timbul masalah, olahraga sebaiknya jangan diteruskan. Gantilah dengan latihan yang lebih ringan. Jalan kaki, berenang, atau senam misalnya.

3. Berpakaian Menarik

Seksi dan kehamilan bisa beriringan. Tapi beberapa ibu hamil merasa tidak menarik saat hamil. Ini tidak perlu terjadi. Siasati dengan pakaian hamil yang menarik. Tak ada salahnya mencoba pakaian yang ‘kecil’ untuk mempertontonkan tubuh Anda. Apalagi saat ini, banyak tersedia baju hamil dengan beragam model. Cobalah rasakan perbedaannya. Konon, calon ibu yang telah mempersiapkan baju hamil sejak awal cenderung lebih mudah menyesuaikan diri dengan tubuh barunya.

5. Nikmati Makanan


Meskipun tubuh Anda melar, jangan menjadikannya alasan untuk berdiet. Ini bisa membahayakan kondisi Anda dan janin. Kebutuhan nutrisi justru meningkat selama kehamilan. Memilih-milih makanan takkan membantu Anda maupun bayi. Sebaliknya, kondisi ini justru akan membahayakan kondisi Anda berdua, tumbuh-kembang janin bisa terganggu. Lebih baik apabila Anda mengatur kembali pola makan. Jadi, nikmati saja makanan Anda.

6. Manjakan Diri


Lakukanlah sesuatu yang membuat Anda dapat menghargai diri sendiri. Misalnya, menata rambut atau memoles wajah dengan kosmetik. Atau mengunjungi salon dan spa untuk memanjakan tubuh dengan berbagai perawatan. Hindari berendam dalam air panas atau kosmetika yang dilarang untuk ibu hamil.

Selain melakukan hal di atas, cobalah membuka wawasan. Ada banyak sumber yang bisa Anda baca ; buku-buku, majalah, atau situs-situs mengenai kehamilan. Anda masih memiliki banyak waktu untuk mengembalikan tubuh seperti semula setelah si kecil lahir. Jadi, lalui masa kehamilan dengan suka cita. Jangan korbankan masa depan si kecil demi menolak perubahan tubuh Anda selama kehamilan. I PG

——————————————————————————————————

Dimana Pertambahan Berat Badan Disimpan?

Sumber Pertambahan Bobot (kg)

  • Bayi 3.75
  • Lemak 3.5
  • Darah 2
  • Cairan tubuh 2
  • Payudara 1
  • Rahim 1
  • Air ketuban 1
  • Plasenta 0.75
  • Total 15

Sumber: American College of Obstetrics and Gynecology

——————————————————————————————————


Jadilah Anak Jujur dan Baik Hati!

Mendidik anak menjadi pribadi yang jujur dan baik hati sungguh tidak mudah. Kuncinya ada pada kesabaran orangtua menjadi role model.

Anak kita boleh cemerlang di sekolah, bintang lapangan, berbakat seni, cantik atau ganteng. Tapi semua itu tidak lebih penting dibanding perilaku moralnya. Merujuk Thomas Lickona dalam bukunya Raising Good Children, “Jika anak kita bukan anak yang ‘baik’, maka perikemanusiaan mereka pun berkurang.”
 
Anak yang ‘baik’ adalah anak yang memiliki karakteristik yang mendukung pengembangan moralnya. Di antara sederet karakteristik pendukung pengembangan moral tersebut, ‘jujur’ dan ‘baik hati’ (perhatian terhadap sesama manusia) termasuk yang diutamakan. Dalam banyak acuan, keduanya kerap disebut pertama kali. Bahkan kadang dianggap mencakup atau mewakili karakteristik lainnya.
 
Partnership of Learning, organisasi kemitraan nonprofit di Washington Amerika Serikat yang antara lain menyediakan informasi berbasis riset bagi guru dan orangtua, dalam salah satu publikasinya menyebutkan, “Bilamana anak-anak sopan, baik hati dan jujur, mereka mengembangkan karakter yang baik – dan membuat orangtua mereka nampak baik.” Perhatikan bahwa hanya disebutkan tiga perilaku untuk mengembangkan karakter yang baik. Dan dua di antaranya adalah ‘jujur’ dan ‘baik hati’.
 
Bagian dari Pendidikan Moral
Mendidik anak agar ‘jujur’ dan ‘baik hati’ adalah bagian ‘kerja raksasa’ kita menjadikan mereka manusia bermoral. Dengan demikian, prinsip-prinsip dalam membesarkan anak bermoral dapat kita gunakan untuk mengajarkan kejujuran dan kebaikan hati pada anak. Berikut ini prinsip-prinsip untuk mendidik anak jadi ‘jujur’ dan ‘baik hati’, mengacu pada buku Raising Good Children dari Thomas Lickona:
 

  1. Perlakukan anak seperti kita mengharapkan mereka memperlakukan kita. Moralitas adalah sesuatu yang sifatnya dua arah. Jika kita telah bersikap jujur dan baik hati pada mereka (dengan bersikap terbuka, penuh perhatian, memperlakukan anak sesuai tingkat pemikirannya, mentoleransi ‘ketidakmatangan’ anak), barulah kita boleh berharap mereka bersikap jujur dan baik pada kita: tidak berbohong, penuh perhatian dan tenggang rasa, menghormati kita sebagai orangtua, serta menghormati kita sebagai sesama manusia. 
  2. Mengajarkan lewat contoh. Anak harus diajarkan bagaimana memperlakukan dan berbicara dengan orang di luar dirinya dan keluarganya. Contoh tunggalnya adalah diri kita, sikap serta perilaku kita. Jika kita jujur dan baik hati pada orang lain, barulah kita bisa berharap anak-anak akan jujur dan baik hati juga pada orang lain. Ada banyak sekali ‘kebaikan hati’ dan ‘kejujuran’ yang bisa kita contohkan pada anak: Hindarkan mencemooh orang lain di depan anak. Tahan diri untuk tidak mengajarkan atau tertawa saat mendengar gurauan tentang suku, etnis atau agama. Jangan menyuruh anak mengatakan “Ssst, bilang saja Ayah sedang pergi” pada tamu.  
  3. Mengajarkan lewat kata-kata. Anak dikelilingi banyak sekali contoh buruk. Di jalan, di sekolah, di televisi. Mereka memerlukan penjelasan, misalnya, “kenapa kita harus jujur dan baik hati, sementara di luar sana banyak koruptor dan penjahat?”. Anak perlu melihat kita bertindak jujur dan baik hati, tapi mereka juga perlu mengetahui kenapa kita melakukannya. Jika kita menjelaskan nilai-nilai dan keyakinan di balik contoh tindakan kita, maka pengaruh tindakan itu pada anak akan maksimal. 
  4. Bantu anak untuk belajar berpikir. Kita bisa membantu mengembangkan sikap jujur dan baik hati dengan selalu mendorong mereka agar mau berhenti sejenak, berpikir dan menyertakan sudut pandang orang lain ke dalam pertimbangannya. Jika suatu kali anak tidak jujur atau jahat pada orang lain, misalnya, kita bisa bertanya “Nak, bagaimana rasanya kalau seseorang melakukan hal yang sama terhadap kamu?”  
  5. Bantu anak mempraktikkannya dalam keseharian. Kebaikan hati anak dapat terasah jika mereka diberi kesempatan seluas-luasnya untuk mempraktikkannya dalam keseharian. Ada banyak sekali cara untk itu (lihat boks). Yang penting diingat, jika kita tahu anak berbohong atau melakukan ‘kejahatan’, jangan menyalahkannya. Lebih baik katakan betapa berharganya kejujuran, atau betapa mulianya bersikap baik hati. Katakan pula betapa bangganya kita bila ia bersikap jujur atau baik hati. Lalu tunggulah sejenak agar ‘suara hati’ anak bekerja.
  6. Seimbangkan kebebasan dan kontrol. Jika kita terlalu mengontrol anak soal apa dan bagaimana menjadi pribadi yang jujur dan baik hati, mereka bisa memberontak dan melakukan hal-hal yang tidak kita inginkan, demi kebebasan. Tapi jika kita terlalu memberi kebebasan pada anak untuk menentukan apa dan bagaimana menjadi pribadi yang jujur dan baik hati, mereka bisa kewalahan. Seorang anak yang dibebaskan sebebas-bebasnya untuk ‘berbaik hati’ pada orang mungkin suatu hari kebingungan karena barang-barang pribadinya habis diminta teman-temannya.
  7. Cintailah anak dan ciptakanlah keluarga bahagia. Anak-anak yang merasa dicintai orangtua akan lebih mudah menerima nilai-nilai dan aturan orangtuanya soal kejujuran, kebaikan hati, atau apa saja. Sementara itu, keluarga yang hangat memberi anak figur-figur yang dapat mereka identifikasi sebagai ‘sosok yang jujur dan baik hati’. Keluarga juga menyediakan berbagai contoh, nilai-nilai serta tradisi kejujuran dan kebaikan hati untuk dipelajari dan dijunjung tinggi, serta memberi ‘habitat’ untuk kembali manakala anak lelah dengan ‘kemunafikan dan kejahatan’ di luar sana. PG             
     



    Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s



%d bloggers like this: