“MAIN MATA” SAMA BUNDA

nakita.gif

Ikuti juga cara-cara menstimulasi fungsi indra bayi lainnya.


INDRA PENGLIHATAN

Usia 0-5 bulan

Penglihatan bayi sudah berfungsi sejak ia dilahirkan. Namun fungsinya belum sempurna, yakni belum bisa melihat secara detail bentuk-bentuk atau objek yang dilihatnya. Pandangan bayi pun belum bisa fokus secara penuh terhadap satu objek, apalagi mengamatinya dengan saksama. Baru di usia sekitar 6 minggu, penglihatannya mulai berkembang. Dia mulai membesarkan mata ketika ada orang yang berada dekatnya. Ia pun bisa lebih fokus karena mulai melihat bentuk secara lebih detail.

STIMULASI:

* Ambil bola warna-warni lalu gerakkan ke kiri dan kanan di depan wajah bayi untuk merangsang perhatiannya. Bila sudah bisa melihat lebih jelas, umumnya bayi akan tersenyum dan menunjukkan ekspresi gembira. Selain baik untuk melatih penglihatannya, stimulasi juga bermanfaat untuk psikisnya karena dia merasa ada yang mengajaknya bermain dan bergembira.

* Bila dia ingin menyentuh mainan tersebut, biarkan saja. Hal ini untuk memberikan kesempatan padanya menggunakan kemampuan motorik kasar dan halusnya. Gerakan-gerakan yang dilakukan pun akan terkoordinasi dengan penglihatannya sehingga akan mengoptimalkan kemampuan kedua bola matanya dalam menangkap objek.

* Bila tak ingin ketinggalan momen sedikit pun, gantunglah mainan warna-warni di atas boks tidurnya. Mainan yang memiliki bentuk dan warna beragam ini pasti akan menarik perhatiannya. Lewat mainan ini bayi diperkenalkan pada warna dan bentuk.

Usia 6-12 bulan

Dengan bertambahnya usia, porsi dan cara stimulasi pun bisa ditingkatkan.

* Tunjukkan mainan yang bisa bergerak maju mundur seperti mobil-mobilan, mainan yang bisa dipegang seperti boneka, atau bola yang bisa dipantulkan. Mainan yang dapat digerakkan akan melatih respons mata bayi. Misal, mobil yang maju mundur akan memberi stimulasi penglihatan bayi mengenai jarak yang bisa menjauh dan mendekat. Bola yang dipantulkan dapat memberi stimulasi tentang tinggi-rendah dan seterusnya.

* Boleh juga menggunakan mainan gantung. Saat terjaga di boks tidurnya, bayi akan memanfaatkan kemampuan melihatnya yang sudah lebih jelas dengan melihat-lihat mainan itu. Mungkin dia sudah dapat membedakan warna-warna yang ada. Bahkan dengan kemampuan motoriknya yang sudah meningkat, dia akan duduk atau malah berdiri untuk meraih mainan tersebut. Hal ini baik untuk mengeksplorasi kemampuan lainnya disamping penglihatan.

* Orangtua pun bisa merangsang penglihatan si buah hati dengan mengajaknya berinteraksi. Permainan cilukba sangat baik untuk memperkenalkan aneka mimik wajah. Sementara bertepuk tangan menginformasikan kepada anak bahwa ada gerakan-gerakan bergembira. Begitu juga dengan lambaian tangan sebagai pemberitahuan kalau kita akan pergi, dan sebagainya. Bila koordinasi mata dengan otaknya berjalan baik, anak bisa menirukan gerakan-gerakan tadi.

INDRA PERABA

Tangisan bayi pada saat dilahirkan menunjukkan bahwa indra peraba/perasanya berfungsi normal. Ia merasakan ketidaknyamanan akibat gesekan dan tekanan di kulit yang kemudian diteruskan ke otak untuk selanjutnya diungkapkan dengan menangis.

STIMULASI:

* Stimulasi bisa dilakukan dari usia 0 hingga 12 bulan dengan berbagai cara. Misal, di usia 4 bulan ketika bayi mulai meraba-raba, kita bisa meletakkan telapak tangannya di mulut, hidung, telinga, atau di kepala kita agar bayi dapat merasakan kontur dan tekstur yang berbeda.

* Kemudian di usia 8 bulan, saat bayi mulai bisa berdiri, kita bisa menjejakkan kakinya di lantai, di karpet, di tempat tidur, di rumput, di pasir, dan sebagainya. Berbagai perbedaan tekstur yang dirasakannya itu akan memberikan pelajaran bahwa banyak benda yang memiliki tekstur berbeda.

* Benda-benda yang berkontur berbeda bisa kita berikan kepada bayi, semisal sendok, piring plastik, boneka berbulu, mainan kayu, gelas kaleng, dan sebagainya. Biarkan ia menyentuh dan memainkannya agar bisa merasakannya sendiri.

* Kita pun bisa meletakkan bahan-bahan yang bertekstur beda di boks tempat tidurnya, seperti selimut berbulu, alas tempat tidur yang empuk, bahan bantal yang licin, dan lain-lain.

* Kita juga bisa memijat bayi sebagai sarana bagi stimulasi terhadap indra perabanya. Pijatan dapat memberi efek relaks pada bayi. Apalagi pijatan yang intens dilakukan oleh kita sendiri.

INDRA PENGECAP

Indra pengecap bayi sudah bekerja sejak lahir. Dengan batuan refleks mengisap, ia langsung dapat menikmati ASI. Jika sudah terbiasa minum ASI, umumnya bayi akan menolak asupan lainnya. Itu karena ia sudah dapat membedakan rasa ASI dengan lainnya. Bayi pun umumnya akan menolak ASI yang bukan berasal dari payudara ibunya.

Itulah mengapa program ASI eksklusif selama 6 bulan tidak membolehkan pemberian cairan dan makanan selain ASI. Salah satu alasannya, khawatir bayi akan menolak ASI setelah mendapat asupan lain yang akhirnya membuat program ASI eksklusif gagal. Jangan khawatir karena ASI punya citarasa yang tinggi dan beragam, ada asin, manis, asam, dan sedikit pahit tanpa ada yang bisa menyamainya secara persis.

Namun, di usia 6 bulan, saat pemberian ASI eksklusif berakhir, bayi justru perlu mendapat makanan tambahan. Nah, di usia ini ia mulai bisa membedakan mana rasa manis, asin, maupun pahit. Biasanya bayi akan merasa tidak nyaman bila yang diberikan terasa pahit, obat contohnya.

Bila setelah 6 bulan bayi terbiasa dengan berbagai rasa, ia akan lebih mudah beradaptasi dengan berbagai macam makanan. Namun amat dianjurkan agar penggunaan gula sesedikit mungkin di usia bayi. Ini akan membantunya tetap menyukai makanan yang tidak terlalu manis.

Jika sudah dapat memegang benda, bayi akan memasukkan apa yang dapat diraihnya ke dalam mulut. Selama benda tersebut merupakan makanan yang tak membahayakan dan cukup bersih, biarkan saja dia melakukannya. Soalnya, ini adalah salah satu cara bayi bereksplorasi dengan indra pengecapnya.

INDRA PENCIUMAN

Kelainan indra penciuman jarang ditemukan pada bayi. Meskipun ada penyakit polip yang dapat mengganggu indra penciuman, namun biasanya baru ditemukan setelah usia anak lewat setahun.

INDRA PENDENGARAN

Bayi sudah dapat mendengar sejak di dalam kandungan yakni pada usia kehamilan 16-20 minggu. Di usia ini bayi sudah memiliki saluran sambungan di telinganya dan dapat mengenali melodi suara sang ibu. Nah, saat lahir pendengarannya sudah sempurna meski belum memahami betul sumber bunyi-bunyian yang ada.

Di usia satu bulan bayi sudah bisa menunjukkan reaksi terbatas terhadap berbagai bunyi seperti suara musik, binatang, suara orangtuanya dan suara-suara lain di sekitarnya. Reaksi yang sering ditunjukkan bayi adalah terpana memandangi mulut kita saat kita mengajaknya berbicara atau memandangi suara kerincingan saat kita membunyikannya.

Barulah di usia 5 bulan, saat kemampuan motorik lehernya meningkat, bayi dapat menoleh dan mencari asal suara yang berasal dari samping atau belakangnya. Selanjutnya, di usia 6-12 bulan bayi dapat membedakan mana suara ayah atau ibunya. Bahkan dia pun mampu menirukan suara-suara yang pernah didengarnya dengan caranya sendiri.

STIMULASI:

Usia 0-5 bulan

* Ajak bayi berbicara sejak ia lahir. Tak perlu yang rumit, gunakan aktivitas sehari-hari sebagai topik pembicaraan. Misal, saat memakaikan popok, ucapkan, “Kamu harus pakai popok ya, Sayang biar nyaman!” Meskipun belum dipahami stimulasi seperti ini amat baik untuk merangsang indra pendengarannya.

* Menginjak usia 1 bulan kita bisa meperdengarkan bunyi-bunyian, bisa dari mainan berbunyi atau alat musik. Bunyikan di atas kepalanya sehingga dia berusaha memandang asal suara yang didengarnya. Lalu di usia 2 bulan, kita bunyikan sambil menggerakkan mainan berbunyi tersebut. Bila pendengarannya baik, bayi akan menolehkan kepalanya untuk mencari asal suara.

* Saat bayi sudah bisa menoleh, sekitar usia 5 bulan, kita bisa membunyikan kerincingan dari arah yang tidak dilihatnya. Kemampuan pendengaran yang baik akan ditunjukkan dengan usahanya mencari arah datangnya suara. Tak hanya membunyikan kerincingan, kita pun bisa menstimulasinya dengan memanggil namanya.

Usia 6-12 bulan

* Kemampuan berbahasa bayi salah satunya didapat lewat peniruan dari apa yang didengarnya. Nah, di usia 7 bulan bayi mulai bisa menirukan suara. Ajarkan kepadanya beberapa kata sederhana seperti “mama”, “papa” dan sebagainya. Bila pendengarannya baik, dia akan berusaha mengucapkannya dengan cara bergumam atau mengoceh.

* Tak hanya meniru bahasa sederhana, suara-suara binatang pun mulai ditirukannya. Perdengarkanlah suara-suara binatang, seperti kucing, kambing, burung, dan sebagainya.

Konsultan Ahli:

dr. Trasmanto, Sp.A.,

dari RS Mitra Internasional Jatinegara, Jakarta.

 




    Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s



%d bloggers like this: