EKSPRESI PERTAMAKU

nakita.gif

Manusia makhluk sosial. Pada bayi, hal ini terlihat jelas lewat ekspresinya.


Bayi mengenal lingkungan lewat kepekaan indra. Penelitian membuktikan, bayi lebih suka mendengar suara manusia, terutama suara ibunya yang sudah dikenal sejak dalam kandungan, dibanding suara-suara lain. Karenanya, orangtua amat dianjurkan untuk sering berbicara kepada bayi. Salah satunya agar kemampuan bersosialisasinya berkembang optimal.

Berikut tahapan kemampuan sosial bayi dari bulan ke bulan dan bagaimana cara menstimulasinya.

* Terkejut dan Menangis

Terkejut dan menangis sebagai reaksi terhadap bunyi keras dan sinar terang dapat ditunjukkan oleh bayi sejak baru lahir. Di usia 1 bulan, ia mulai dapat mengarahkan pandangan pada sumber bunyi dan bahkan mulai menatapnya. Namun, pertama kali mungkin bayi hanya terdiam. Selanjutnya di usia 2 bulan, jika ada bunyi lonceng di dekatnya, ia tidak lagi menunjukkan reaksi mengejapkan mata atau gerakan kaget tetapi menunjukkan sikap mendengarkan.

* Tersenyum

Bayi biasanya mulai tersenyum di usia 2 bulan sebagai jawaban atas kasih sayang terhadapnya. Namun senyum sosial yang merupakan interaksinya dengan manusia lain biasanya baru muncul di usia 3 bulan. Orang lain yang masih asing pun akan diajaknya tersenyum di usia ini. Uniknya, ia tidak mengajak tersenyum benda mati atau sosok yang tidak menyerupai manusia. Menstimulasinya bisa dilakukan dengan sering-sering mengajaknya bicara dan tersenyum.

* Tertawa

Di usia 4 bulan, kemampuan tertawanya muncul. Biasanya kemampuan ini diiringi dengan pekikan untuk menunjukkan kesenangan yang luar biasa saat diajak bermain. Stimulasi yang bisa kita berikan, tertawalah dengan ringan, halus, dan tulus yang dapat membuat bayi gembira sehingga dia akan ikut tertawa.

* Senang bersama

Coba sesekali amati, tak jarang si kecil menangis saat ditinggal sendirian bukan? Ini pertanda bahwa bayi pun sebetulnya lebih senang bersama orang lain. Reaksi sosial ini umumnya akan muncul di usia 3 bulanan. Jadi, amat dianjurkan untuk sering-sering mengajak bayi berkomunikasi dan bermain. Interaksi semacam ini akan sangat membantu mengasah kemampuan sosialnya dalam bentuk ekspresi senyum, tendangan/jejakan kaki, lambaian tangan, dan lainnya. Stimulasi yang dapat diberikan di antaranya memberi perhatian lewat belaian, dekapan, dan tatapan mata penuh kasih sayang yang bisa dilakukan saat memberi ASI, memandikan, dan bermain bersama.

* Berteman

Meski menolak orang asing, bayi bisa-bisanya mulai mengagumi bayi lain dan akan mencoba untuk menyentuhnya. Permainan bersama akan sangat menyenangkannya. Responsnya bisa bermacam-macam, seperti saling menatap, “bercakap-cakap” melambaikan tangan, bertepuk tangan, maupun memberi perintah dengan menunjuk sesuatu. Selain itu, bayi usia 6-7 bulan pun biasanya juga mulai mencoba meremas pakaian dan rambut anak lain, atau bahkan mungkin menjambaknya. Boleh jadi tindakan ini dilakukannya untuk mengungkapkan kegemasannya. Ia juga mencoba meniru kata-kata, isyarat, dan gerakan-gerakan sederhana yang dilakukan orang lain. Stimulasilah si kecil dengan melibatkannya dalam lingkungan yang lebih luas. Misalnya, berkunjung ke tetangga sebelah yang punya bayi seusianya. Latihan semacam ini akan mengasah kemampuannya bersosialisasi.

* Menarik perhatian

Bayi usia 4-5 bulan sudah sering mencoba menarik perhatian, terutama terhadap sesama bayi atau anak lain. Biasanya dia akan melambungkan badan ke atas atau ke bawah, menendang, tertawa, atau memainkan lidah dan ludahnya. Kita bisa menstimulasinya dengan sering mengajaknya bermain bersama-sama anak lainnnya.

Minta digendong

Di usia 4-5 bulan kemampuan sosialnya semakin meningkat dengan munculnya aneka bentuk interaksi yang lebih luas. Contohnya, bayi akan minta digendong. Bukan hanya pada orangtua atau orang-orang terdekatnya, tapi juga orang-orang yang mencoba mendekatinya. Jangan ditolak, sebab bayi sedang mengembangkan rasa percayanya terhadap lingkungan. Dengan begitu ia tahu kita selalu berusaha memenuhi kebutuhannya sekaligus siap memberinya kenyamanan. Ini amat baik untuk kestabilan emosinya. Yang pasti, lakukan dengan tulus karena bayi bisa menangkap ketulusan hati kita.

* Mengenali suara orang terdekat

Masih di usia 4-5 bulan, bayi sudah dapat mengenali suara orang terdekatnya seperti ibu, ayah, maupun pengasuhnya. Semakin banyak respons yang diberikan berarti semakin giat otaknya bekerja. Ketika dia sudah mengenali suara-suara orang terdekat, cobalah untuk sering menyapanya dengan kalimat-kalimat sederhana. Contohnya, “Halo Sayang, sudah bangun ya?”

* Menunjukkan reaksi berbeda

Cobalah pura-pura marah di depan bayi usia 4-5 bulan. Dia akan menunjukkan reaksi yang berbeda dengan saat kita tersenyum atau berkata riang kepadanya. Ini bisa terjadi karena bayi usia 4-5 bulan mulai mampu “membaca” apakah kita sedang senang, kesal, atau marah. Berbagai intonasi yang menunjukkan kita suka atau tidak suka pada suatu perilaku ada baiknya dikenalkan agar bayi mengenal macam-macam emosi. Tentu saja bukan berarti Anda bebas melampiaskan kekesalan di hadapan si kecil, karena itu akan membuatnya merasa tidak nyaman.

* Malu atau takut pada orang asing

Bayi usia 6-7 bulan sudah bisa menunjukkan rasa malu. Misal, ketika orang yang dianggapnya asing ingin menggendongnya, bayi umumnya akan “mengerut” lantaran malu. Sikap ini sangat wajar, tetapi orangtua perlu memberi penjelasan bahwa si orang asing ingin berkenalan dengannya dan ia tak perlu bersikap malu. Memang, bayi tidak akan langsung mengubah sikapnya, tapi setidaknya orangtua sudah menjelaskan apa yang perlu dia lakukan.

* Meniru perilaku bayi lain

Meniru perilaku bayi lain umumnya dilakukan bayi usia 9-13 bulan. Contohnya, ketika ada bayi lain menangis, si kecil akan ikut-ikutan menangis meski tak ada alasan/penyebabnya. Begitu juga bila bayi lain menjerit, si kecil akan ikut menjerit tak kalah nyaring. Stimulasi yang dapat diberikan, cobalah sering-sering mengajak bayi bermain dengan teman sebayanya. Lewat bermain bersama dia akan belajar bersosialisasi yang amat penting bagi pertumbuhan emosinya.

* Ekspresikan perasaan

Jangan salah, bayi ternyata sudah dapat mengungkapkan perasaannya di usia 12 bulan. Tak heran bila dia akan spontan melambaikan tangan dan mengucapkan “da-da” ketika kita pergi. Bayi juga bisa teriak gembira/menjerit kegirangan saat kita mencium atau memeluknya. Sebaliknya, ia juga dapat mengekspresikan kemarahannya dengan melempar benda yang ada di tangannya saat kita melarang.

Melatihnya, stimulasilah dia dengan memanfaatkan berbagai situasi dan kondisi guna memancingnya agar bisa mengekspresikan gejolak emosinya. Misalnya, lambaikan tangan saat akan berangkat kerja, pekikkan kata “hore” kala kita sedemikian gembira, atau tunjukkan kekesalan yang wajar begitu kita melihatnya menyentuh benda-benda berbahaya.

TAK ADA RESPONS, MUNGKINKAH AUTIS?

Perkembangan kemampuan sosial pada setiap bayi tidak selalu sama. Ada yang lebih cepat, ada juga yang lebih lambat. Bila rentang waktu keterlambatan hanya 2-3 bulan mungkin masih wajar. Sangat berbeda bila rentang keterlambatan pertumbuhan ini berlangsung hingga berbulan-bulan.

Salah satu yang harus diwaspadai adalah kemungkinan anak menyandang autis. Gangguan fungsi otak yang satu ini ditunjukkan dengan ketidakmampuan memfokuskan perhatian, miskin interaksi sosial, dan gangguan perilaku. Secara umum ada 3 ciri utama gangguan autis, yakni gangguan kualitatif pada interaksi sosial, gangguan kualitatif pada komunikasi, serta perilaku dan minat yang terbatas.

* Ciri gangguan kualitatif pada interaksi sosial:

Gangguan pada perilaku nonverbal, seperti kontak mata terbatas dan ekspresi wajah datar.

Tidak memberi respons bermain seperti anak-anak seusianya.

Tidak dapat berbagi minat dengan orang lain dan kurang mampu melakukan interaksi sosial secara timbal balik.

Sedangkan gangguan kualitatif pada komunikasi:

Terlambat atau bahkan tidak mampu bicara. Ketidakmampuan ini juga tidak digantikan dengan penggunaan bahasa tubuh (gesture).

* Ciri gangguan kualitatif pada komunikasi:

Mulai usia 9 bulan, bayi sudah dapat menunjuk benda yang diminatinya. Sedangkan bocah usia setahun yang diduga menyandang autis tidak bisa melakukan hal serupa. Memang sih agak sulit mengamati hal ini mengingat kemampuan bayi umumnya masih terbatas. Namun setidaknya orangtua bisa melakukan pemantauan sejak dini. Selain itu, amati pula respons si kecil saat diajak bicara apakah yang diucapkannya bermakna atau tidak.

* Ciri perilaku dan minat terbatas:

Saat disodori mainan beroda, ia tidak menjalankannya tapi lebih tertarik memutar-mutar rodanya sepanjang waktu.

Melakukan gerakan stereotip dan berulang, seperti flapping (mengepakkan tangan), menggerakkan jari-jari, dan rocking (mengayunkan badan).

Preokupasi atau memberi perhatian kelewat besar pada bagian tertentu dari sebuah benda. Contohnya, sedemikian tertarik pada telinga boneka kelinci saja.

Bila benar si kecil menunjukkan banyak ciri di atas, sebaiknya perlu waspada dan segera bawa dia ke ahli guna diadakan observasi lebih jauh secara mendalam.

Konsultan ahli:

Prof. DR. SC. Utami Munandar Dipl. Psych

Dari Fakultas Psikologi Universitas Indonesia




    Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s



%d bloggers like this: