Mengubah ‘Ritual Negatif’ Bayi

parent-guide.jpg
Jika bayi punya kebiasaan buruk, yang harus diubah lebih dulu bukan dirinya. Tapi diri kita, orangtuanya.

Nayla (7 bulan) tidak bakal mau tidur kalau papanya belum pulang dari kantor dan menimangnya. Awalnya, ‘ritual’ ini membuat mamanya bangga, haru dan bahagia. “Nayla lengket sekali sama papanya. Dia tahu papanya sayang banget sama dia.“ 
 
Seminggu kemudian, papa Nayla dapat tugas ke luar kota untuk waktu cukup lama. Penugasannya lumayan mendadak, sehingga si kecil Nayla kelihatannya belum siap menerima perubahan itu. Berminggu-minggu setelah papanya pergi Nayla tak bisa tidur, seolah merindukan ‘ritual’nya – ‘ritual’ yang dulu membanggakan tapi kini membebani mamanya.    
 
Kenapa Punya Ritual? 
Semua bayi, seperti halnya tiap orang, punya kebiasaan tertentu. Jika suatu kebiasaan telah sedemikian mengikat – sampai nyaris wajib hukumnya – kita kerap menyebutnya ‘ritual’ (upacara keagamaan – karena hanya upacara keagamaan yang biasanya dipegang teguh, bukan?).
 
Punya ‘ritual’ atau kebiasaan tertentu bukanlah sesuatu yang negatif, sepanjang tidak mengganggu kesehatan bayi atau ketentraman orang lain. Jika ada kebiasaan bayi yang dianggap mengganggu, sebagian kita mungkin akan menyetopnya seketika. Misalnya dengan mengalihkan bayi pada hal-hal lain. Sebagian lagi mungkin mencoba menghentikannya secara berangsur – dengan mengurangi sedikit demi sedikit. Apapun pilihannya, jika ingin menghentikan atau mengubah kebiasaan buruk bayi, kita harus memahami kenapa bayi melakukannya.     
 
Publikasi University of Michigan Health System, yang didukung panel pakar dari Department of Psychiatry dan University of Michigan Pediatrics menyebutkan, kebiasaan-kebiasaan buruk bayi seringkali merupakan ‘coping strategies’ (strategi penanggulangan). Anak mungkin terpaksa berperilaku seperti itu (melakukan kebiasaan buruk) ketika stres, bosan, capek, frustrasi, tidak senang, tidak aman, atau mengantuk. Kebiasaan ini bisa menenangkan dan menyejukkan anak. Disebutkan juga bahwa sebagian besar perilaku ini sekedar tahapan perkembangan atau kebiasaan. Bukan masalah medis serius, dan anak biasanya mampu mengatasinya.   
 
Meski begitu, kita juga perlu mengevaluasi diri maupun orang yang sering berinteraksi dengan bayi. Sering terjadi, orang dewasalah – bukan si bayi – yang ‘meritualkan’ atau membiasakan perilaku tertentu, karena merasa mendapat manfaat dari pembiasaan tersebut. Manfaat yang lazim ingin didapat orang dewasa adalah ‘tidak terlalu direpotkan bayi’ atau ‘terpenuhinya kepuasan diri’.
 
Pada Nayla misalnya. Awalnya papanya hanya ingin ikut mengekspresikan kasih sayang pada buah hatinya dengan menimang-nimangnya. Ternyata Nayla merasa nyaman dan tertidur. Papanya puas. “Wah, ternyata anakku senang kugendong!”. Mamanya juga bangga. “Suamiku memang oke dan perhatian sama anak.” Kepuasan itu mendorong papa Nayla melakukan hal yang sama malam-malam selajutnya. Mama Nayla pun mendukung, karena selain merasa bangga ia tidak perlu repot menidurkan Nayla tiap malam. 
 
Mengubah Bayi, Mengubah Diri
Mengatasi ritual negatif bayi bisa jadi sulit bagi kita. Sebab yang perlu diubah terlebih dahulu adalah diri kita. kita perlu mengubah diri kita agar tidak lagi bersikap reaktif, apalagi sampai menghardik atau menghukum bayi. Sikap seperti ini tidak efektif, bahkan bisa memperparah kebiasaan. Selain itu efek sampingnya tidak baik untuk perkembangan emosi bayi.
 
Kita juga harus mau mengubah sikap kita yang suka meributkan kebiasaan orang lain yang tak sejalan dengan keinginan kita. Kita perlu belajar mengabaikan kebiasaan buruk bayi (yang tidak serius, tentunya), karena biasanya sikap seperti inilah yang efektif untuk mengubah kebiasaan buruk bayi. Kita juga perlu lebih peka terhadap kemajuan yang dicapai bayi, lebih aktif memuji dan memberinya imbalan positif. Ketika suatu malam Nayla akhirnya mau tidur cepat, esok paginya mamanya menyambutnya dengan ciuman dan pujian: “Siapa yang bobonya pintar tadi malam? Nay…laaaa!” Setelah itu, mama Nayla langsung mengajak jalan-jalan pagi, sehingga terkesan sebagai reward: “Karena Nayla bobonya pintar, kita jalan-jalan ke taman, yuk!”
 
Kita juga perlu lebih mengalah demi kepentingan bayi. Hindarkan me’ritual’kan sesuatu yang sebenarnya tidak dibutuhkan bayi, sehingga malah menimbulkan ketergantungan. Menimang bayi sampai tertidur, memberi empeng, mengkondisikan kesenyapan selama bayi tidur, bisa jadi tidak dibutuhkan karena bayi akan tertidur kalau mengantuk, akan merasa aman dan nyaman kalau tak ada yang ditakutkan, akan lelap kalau tubuhnya nyaman – meski di sekitarnya ada yang bercakap-cakap.        
 
Lawan dorongan untuk memberi bayi ‘kenyamanan ekstra’, kalau tujuannya sekedar untuk kepuasan diri atau untuk ‘menyuap’ bayi agar tidak merepotkan kita. Terakhir, kita juga perlu lebih bersabar. Jika bayi punya banyak ritual negatif, mulailah memfokuskan pada 1-2 ritual yang paling merugikan, bukan sekaligus. Jika kita siap mengubah diri, mengubah ‘ritual negatif’ bayi niscaya jauh lebih mudah. PG     




    Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s



%d bloggers like this: