MUNTAH SETIAP DISUAPI?

nakita.gif

Perkenalan bayi dengan MPASI tak selalu berjalan mulus. Bila orangtua menemukan kejanggalan-kejanggalan seperti setiap kali disuapi bayi muntah, fesesnya berupa mencret, atau bayi mengalami sembelit, orangtua harus mencari penyebab dan mencoba menanganinya. dr. Budi Purnomo, SpA.(K)., dari RSAB Harapan Kita, Jakarta, menjelaskan beberapa permasalahan yang kerap dihadapi sistem pencernaan bayi beserta cara menanganinya.

* MUNTAH (refluks)

Penyebab dan solusi:

Posisi memberi makan yang salah, sambil tidur telentang umpamanya. Prinsip pemberian makan pada bayi adalah dengan menggunakan teori gravitasi. Ini berarti posisi kepala/mulut harus lebih tinggi dari perut. Untuk itu ganjalkan bantal saat akan memberikan bayi makan.

Muntah bisa juga dikarenakan bayi merasa enek karena naiknya/berlebihannya asam lambung. Coba perhatikan makanannya, apakah terlalu berlemak atau pedas? Karena jenis makanan seperti itu dapat merangsang asam lambung. Bila tidak ada yang salah dengan makanan, kemungkinan bayi enek karena lambungnya kemasukan kuman. Salah satu gejala bayi enek adalah perutnya kembung. Untuk lebih memastikannya, lebih bijak bila si kecil dibawa ke dokter yang akan melakukan pemeriksaan intensif. Bila dikarenakan kuman, ia akan diberi obat. Namun bila hanya disebabkan makanan yang merangsang, tentu dengan menghindari makanan seperti itu.

Muntah bisa juga terjadi karena lemahnya “klep” yang menghubungkan saluran kerongkongan dan lambung bayi. Inilah yang menyebabkan terjadinya aliran balik isi lambung dari perut ke tenggorokan. Lemahnya “klep” ini umumnya merupakan kelainan bawaan. Ciri-ciri muntah karena kelainan bawaan adalah bayi sering sekali muntah (dalam satu hari bisa muntah lebih dari 10 kali). Setiap diberi minum ia pasti muntah begitu pun saat diberi makan. Solusinya tak ada cara lain harus dengan membawa bayi ke dokter. Jangan khawatir tindakan medis yang dibutuhkan untuk mengatasi kondisi ini tidak selalu harus lewat operasi kok. Terkadang, bayi cukup diberikan latihan dengan cara memberikan minuman dan makanan sedikit demi sedikit. Dengan bertambahnya usia bayi, diharapkan klepnya semakin kuat dan bisa berfungsi normal.

* DIARE

Angka penderita diare diperkirakan antara 150 sampai 430 per 1.000 penduduk setahunnya. Bayi kurang dari 1 bulan dinyatakan diare bila frekuensi BABnya lebih dari 4 kali sehari, sementara untuk bayi di atas 1 bulan, lebih dari 3 kali. Ciri-ciri diare lainnya, tinja encer (terkadang disertai darah atau lendir) dan bisa disertai/tanpa muntah. Salah satu dampak mengkhawatirkan dari diare adalah dehidrasi (terkurasnya cairan di dalam tubuh). Gejala dehidrasi pada bayi adalah mata dan ubun-ubun besar tampak cekung; selaput lendir, seperti bibir, mulut serta kulit tampak kering.

Penyebab diare bermacam-macam. Misalnya karena sistem pencernaan anak terinfeksi kuman/virus atau bisa juga karena alergi. Kemungkinan lain, usus bayi teriritasi karena makanan yang dikonsumsinya mengandung lemak tinggi atau asam), kekurangan gizi atau keracunan makanan.

Pencegahan:

Bagi bayi 6 bulan ke atas, periksa apakah makanannya sudah baik, bersih, dan tidak merangsang asam lambungnya.

Ciptakan lingkungan yang sehat dan bersih

Rajin-rajinlah membersihkan diri/mencuci tangan setiap akan memberi makan bayi.

Bagi ibu yang masih menyusui, jaga kesehatan dan kebersihan puting susu.

Penanganan:

Bayi diare mesti tetap diberi ASI.

Jangan lupa beri bayi oralit.

Jika dalam kurun waktu 1X24 jam bayi masih mengalami diare (dan melebihi frekuensi yang wajar) jangan ragu untuk melarikannya ke rumah sakit.

* SEMBELIT

Ciri-ciri bayi mengalami sembelit adalah frekuensi BAB jarang atau bayi mengalami kesulitan saat BAB, tidak bisa kentut, perut anak kembung, perut anak membuncit, atau anak rewel.

Penyebab:

Penyebab terbesar adalah asupan yang diterima bayi. Bayi yang disusui ASI tidak akan sembelit. Sementara bayi yang mengonsumsi susu formula berisiko besar untuk mengalami sembelit karena susu yang dikonsumsinya mengandung zat besi dengan kadar yang mungkin kelewat tinggi bagi bayi.

Sistem pencernaan bayi belum siap menerima asupan yang diberikan. Misalnya, asupan tim saring bagi bayi usia 6 bulan. Nah, karena olahan makanan tersebut belum bisa diproses, diserap, ataupun dikeluarkan oleh sistem pencernaannya jadilah sembelit. Bahkan ada yang mengatakan sembelit sering kali terjadi pada anak yang sedang menjalani peralihan jenis makanan.

Penanganan:

Sembelit akibat pemberian susu formula bisa diatasi dengan kembali menyusui bayi dengan ASI. Apalagi bila usianya belum mencapai 6 bulan.

Jika karena makanan, turunkan kadar kepadatan makanannya. Bubur susu dan tepung beras yang encer baik diberikan di usia 6 bulan. Jika terjadi sembelit, variasikan menunya dengan bubur susu buah. Kalau tidak sembuh dalam 3 hari, konsultasikan pada dokter.




    Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s



%d bloggers like this: