KELEWAT ANTENG JANGAN DIANGGAP ENTENG

nakita.gif


E
mosi di masa bayi sangat menentukan perkembangan kepribadian anak. Jangan sepelekan jika alami gangguan.


Bayi sudah dapat menunjukkan emosinya sejak baru lahir, lo! Yang umum dilakukan bayi adalah menangis untuk mengungkapkan emosi ketidaknyamanannya, entah karena lapar, haus, gerah, atau lainnya. Ungkapan emosinya ini akan semakin beragam seiring dengan pertumbuhan usianya.

Yang pasti, perkembangan emosi bayi harus terus dipantau mengingat masa ini merupakan dimulainya pembentukan kecerdasan emosi/emotional quotient (EQ). EQ ini pegang peran sangat penting dalam menumbuhkan rasa aman yang selanjutnya memupuk kepribadiannya tumbuh secara positif. EQ juga sangat mendukung pertumbuhan berbagai aspek kecerdasan bayi itu sendiri. Makanya, bila muncul masalah emosi, orangtua wajib untuk mengarahkan agar tidak berkelanjutan sampai ia besar nanti.

Memang tak mudah untuk mengenali apakah emosi bayi terganggu atau tidak. Yang penting, berupayalah mengenali emosi yang ditunjukkan si kecil karena hanya dengan itulah orangtua bisa membaca apa ke-butuhannya.

CURIGAI BILA….

Berikut beberapa masalah emosi yang mungkin dialami bayi sekaligus kiat mengatasinya.

* Kelewat Anteng

Umumnya selama minggu-minggu pertama setelah lahir, bayi akan sering menangis dan rewel. Sebenarnya tangis dan kerewelan merupakan bentuk emosi pertama yang ditunjukkan bayi. Ketidaknyamanan yang disebabkan rasa lapar, gerah, atau popok basah seharusnya disampaikan lewat tangisan. Jadi, kalau bayi yang terlihat begitu tenang dan jarang sekali me-nangis orangtua perlu curiga karena setiap bayi pasti akan mengalami ketidaknyamanan seperti itu.

Bayi kelewat anteng, bila ditelusuri boleh jadi mengalami gangguan kinerja otak. Untuk memastikannya tak ada cara lain kecuali minta bantuan ahli, baik pemeriksaan oleh dokter anak ataupun psikolog. Observasi mendalam diharapkan dapat membantu menemukan akar masalah yang dialami si kecil. Tindakan tepat di tangan ahli yang benar-benar kompeten tentu akan menghindari atau setidaknya meminimalkan gangguan yang mungkin ada.

Terhadap tangisan dan kerewelan bayi, tanpa perlu kelewat cemas, cepatlah tanggap untuk segera memeriksa apakah dia pup, ngompol, lapar, haus, dan sebagainya. Kemudian bersegeralah pula melakukan tindakan yang diperlukan.

Bila ternyata tak ada ketidaknyamanan yang ditemukan, sangat mungkin bayi ingin sekadar digendong agar merasa lebih nyaman dan aman. Ya segeralah menggendongnya.

Dengan begitu bayi mendapat kenyamanan yang dibutuhkan. Pemenuhan ini selanjutnya akan menumbuhkan rasa percaya (basic trust) terhadap lingkungan terdekatnya.

* Tak Pernah Senyum

Normalnya, senyum sosial dan suara-suara ocehan sudah muncul sejak usia 2 bulanan. Terutama saat perutnya kenyang, ingin bermain, atau ingin membalas sapaan kita. Bila demikian berarti kemampuan sosialnya berkembang dengan baik. Salah satunya berkat kecukupan stimulasi yang kita berikan.

Sebaliknya, bila kemampuan ini tak kunjung muncul (misalnya bayi tak bisa tersenyum spontan hingga di usia 5 bulanan) bisa saja ia mengalami gangguan emosi. Gangguan yang satu ini tak selalu akibat adanya kelainan pada diri bayi, namun mungkin saja karena si kecil kurang mendapat stimulasi. Bayi-bayi yang dibesarkan oleh ibu-ibu yang jarang tersenyum dan jarang mengajak bercakap-cakap biasanya juga akan tumbuh menjadi bayi yang sulit tersenyum dan mengekspresikan perasaannya lewat suara-suara. Ini karena emosi bayi tak terstimulasi dengan baik.

Jadi, demi kebaikan si kecil, mulai sekarang sering-seringlah tersenyum padanya, entah saat menyusui, bermain, memakaikan baju, memandikan, dan seba-gainya. Tak hanya senyum, cobalah ngobrol dengannya agar si kecil makin merasa aman dan percaya diri untuk mengembangkan kecerdasan emosinya.

Namun, bukan tidak mungkin berbagai stimulasi yang kita berikan tidak ditanggapi oleh bayi. Banyak balita penyandang autisme ternyata saat bayi tidak menunjukkan senyum sosial. Mereka umumnya terlihat cuek pada lingkungan sekitarnya. Nah, bila ada dugaan ke arah sana, konsultasikan ke ahlinya untuk mendapat diagnosis yang pasti. Bila benar demikian, pastikan pula sejauh mana tingkat ringan atau berat gangguan yang dialaminya.

* Emosi Berlebihan

Reaksi emosi ternyata tak hanya dimiliki orang dewasa. Bayi pun bisa! Reaksi emosi ini dapat diamati lebih jelas ketika bayi sudah melewati usia 3 bulan. Dia menggunakan mimik muka, gerakan badan, dan rengekan untuk mengomunikasikan emosi kecewa saat kebutuhannya tidak terpenuhi. Gangguan emosi terjadi jika bayi bereaksi secara berlebihan. Contohnya, muncul tantrum dibarengi dengan teriakan-teriakan keras, membanting-banting mainannya dengan keras, tak mau tenang untuk waktu lama dan sebagainya. Salah satu penyebab munculnya gangguan emosi ini adalah ADHD, maupun autisma. Bayi-bayi yang diduga memiliki gangguan tersebut biasanya menunjukkan emosi berlebihan pada situasi tertentu.

Namun bila emosi berlebihan tadi lantaran bayi mengalami kekecewaan mendalam dan bukan hal lainnya, biasanya akan cepat tenang kembali begitu ia mendapatkan apa yang diinginkannya. Untuk membangun emosi yang positif, orangtua sebaiknya terbiasa mengarahkan bayinya. Semisal dengan menjelaskan padanya bahwa apa yang dilakukannya itu tidak baik. Tentu saja jangan berharap segalanya akan beres hanya dengan sekali memberi penjelasan. Soalnya, seperti proses pembelajaran lainnya, hal ini harus dilakukan berulang-ulang, baik saat emosi berlebihnya muncul maupun saat dia tenang. Tak hanya itu. Orangtua pun harus jeli membaca kebutuhan bayinya sehingga dapat memenuhi saat bayi membutuhkan. Contohnya, ketepatan waktu menyusu/makan makanan pendamping yang memungkinkan orangtua tahu persis kapan si bayi merasa tidak nyaman dengan kondisi perutnya yang lapar.

* Acuh Tak Acuh

Seharusnya di usia 4 bulan ke atas, bayi sudah bisa merasakan situasi sekitarnya. Di antaranya dapat merasakan emosi ibunya yang tengah sedih, gundah, marah, letih, dan sebagainya. Coba saja perhatikan, tanpa diminta pun seorang bayi akan segera berhenti ber”celoteh” kala ibunya bicara dengan intonasi tinggi yang merupakan pertanda marah. Nah, bayi-bayi yang mengalami gangguan emosi biasanya justru cuek pada apa yang terjadi di sekelilingnya. Jadi, mestinya orangtua segera curiga bila anaknya tetap membanting-banting mainannya meski ibunya sudah melarang dengan nada keras. Atau dia akan tetap asyik dengan keasyikannya sendiri meski ayah sedang memarahi kakak, misalnya.

Kalau ini yang terjadi, orangtua diminta untuk sering-sering mengajak si kecil bermain, ngobrol, mendongengkan. Dengan demikian setidaknya ada rangsangan ke otaknya untuk bisa fokus ke satu hal yang tengah dihadapinya. Intervensi semacam ini diharapkan bisa meringankan kadar keacuhan bayi terhadap lingkungannya. Tentu saja orangtua tetap harus berkonsultasi ke ahlinya guna membicarakan aneka terapi lebih lanjut yang tepat dan sesuai porsinya bagi si anak.

* Tak Terjalin Kelekatan

Bayi yang sebagian besar waktunya senantiasa bersama sang ibu, disusui, mendapat perlindungan dan dipenuhi kebutuhannya seharusnya akan merasa tidak nyaman kala di-tinggal pergi bekerja, misalnya. Ini bisa dimengerti karena kelekatan yang sudah terjalin pasti akan terusik kala harus berpisah. Keduanya akan merasa kehilangan satu sama lain. Ini adalah reaksi yang wajar selama kelekatan tersebut tidak berlebihan. Contohnya, menangis menjerit-jerit sedemikian keras padahal si ibu hanya buang air ke kamar mandi. Namun pada bayi-bayi tertentu justru seba-liknya. Si bayi tenang-tenang dan tetap happy meski ibu/ayahnya pergi dalam waktu cukup lama lantaran tak merasa lekat.

Tidak adanya kelekatan ini bisa karena gangguan emosi akibat gangguan pertumbuhan otak seperti yang dialami anak autisme. Akan tetapi bisa juga karena orangtua tidak menumbuhkan kelekatan padanya. Misalnya dengan dalih kelewat sibuk kemudian menyerahkan sepenuhnya urusan dan pengasuhan si kecil pada babysitter/pengasuh, dari makan, minum susu sampai mandi dan sebagainya. Ketidaklekatan ini bukannya tidak membuahkan “hasil” lo. Bayi-bayi yang tidak beroleh kenya-manan dari orangtuanya biasanya akan tumbuh menjadi pribadi yang rapuh, kurang percaya diri, dan emosional.

Sebaiknya, sesibuk apa pun, orangtua mesti mengupayakan kecukupan pemberian perhatian. Boleh saja siang hari di saat bekerja orangtua memberi kewenangan pada pengasuh, nenek, atau kerabat lain untuk merawat si kecil. Namun sesampainya di rumah, penanganan harus langsung kembali menjadi porsi orangtua. Begitu juga di kala libur, hendaknya orangtua jangan hanya memanfaatkan waktu untuk dirinya sendiri, melainkan untuk bermain, bercengkrama dan mengurusi segala kebutuhan bayinya. Ini mesti diupayakan agar pertumbuhan emosi bayi berjalan dengan baik lewat kelekatan yang terjalin. Sedangkan untuk bayi-bayi yang mengalami gangguan pertumbuhan otak, mau tidak mau orangtua harus melibatkan ahli dalam menangani gangguan psikisnya.

* Terlalu Takut

Cemas berada sendirian di kamar atau cemas bertemu dengan orang asing merupakan reaksi wajar yang ditunjukkan bayi berusia 7 bulan. Ungkapan emosi ini menandakan kalau bayi sudah mampu menunjukkan kewaspadaan terhadap sesuatu yang menurutnya asing. Yang tidak wajar adalah jika ketakutan tersebut muncul sangat berlebihan. Contohnya, bayi akan ber-teriak sangat keras saat berada sendirian dalam kamar atau memeluk sangat erat dan tak mau dilepaskan saat bertemu orang asing.

Kalau ini yang terjadi berarti ada gangguan emosi akibat perasaan tidak aman terhadap lingkungannya. Tentu saja gangguan emosi ini harus segera diluruskan agar emosi anak tumbuh positif dan kelak mampu mengembangkan berbagai kemampuan dan kecerdasan sesuai tahapan perkembangannya. Caranya, dengan memberinya ketenangan saat dia takut le-wat belaian dan pelukan. “Pesan” ini akan diterima anak sebagai sinyal kalau orangtuanya siap memenuhi kebutuhannya. Disamping mengajaknya berkomunikasi, di antaranya mengenai keberanian dan sejenisnya. Ketakutan dalam porsi wajar pasti akan mendukung tumbuhnya pribadi positif, percaya diri, kreatif, berani, dan sebagainya.




    Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s



%d bloggers like this: