DETEKSI GANGGUAN INDRA SEJAK DINI

nakita.gif

Bila ada gangguan bisa segera diantisipasi dengan berkonsultasi ke ahlinya.

Agar gangguan sekecil apa pun dapat dikenali dan ditangani sejak dini, mulailah memantau kemampuan panca indra bayi. Hal ini perlu dilakukan karena kemampuan indra erat kaitannya dengan proses tumbuh kembang anak.

CEK & STIMULASI

Bagaimana cara mengeceknya? Simaklah cara-caranya yang sederhana:

1. Indra Penglihatan

Untuk mengecek apakah indra penglihatannya normal atau tidak kita bisa melakukan hal-hal di bawah ini:

* Menggerakkan objek

Kita bisa menggerak-gerakkan objek, boneka misalnya, di depan mata anak dengan jarak sekitar 1 meter. Gunakan boneka berwarna terang dan hindari yang berwarna gelap. Bila bayi usia 4-7 minggu sudah bisa menatap dan mengikuti gerakan boneka tersebut berarti indra penglihatannya tumbuh dengan baik.

Bila lewat dari usia 7 minggu dia belum dapat merespons mungkin saja bayi mengalami gangguan. Untuk mengetahui gangguan apa yang terjadi, orangtua harus membawanya ke dokter untuk dilakukan observasi.

* Melihat sinar

Di usia sekitar 4-12 minggu, letakkan bayi di dekat jendela yang terkena sinar matahari. Lakukan di pagi hari agar sinar yang masuk tidak terlalu panas. Kemudian perhatikan apakah bayi berusaha untuk menengokkan kepalanya ke arah sinar dari jendela atau tidak. Jika dia melakukannya berarti bayi memiliki respons terhadap sinar yang masuk ke matanya. Hal ini menunjukkan pertanda baik bagi kemampuan indra penglihatannya.

Bila hingga usia 12 minggu bayi tampak tidak bereaksi terhadap sinar, mungkin saja fungsi penglihatannya mengalami gangguan. Namun untuk mendapat kepastiannya, mau tidak mau harus diperiksakan secara intensif agar hasil sekaligus penanganan selanjutnya bisa lebih akurat.

* Sering bergerak

Kita bisa mengeceknya dengan memerhatikan kondisi bola mata bayi. Dari organ penting inilah pertanda adanya ketidakberesan pada indra penglihatan bayi bisa didapat. Bola mata bayi pada dasarnya bisa terlihat “bergoyang” ke kiri dan ke kanan atau ke atas dan ke bawah yang dapat berlangsung sejak lahir. Bila tidak ada kemungkinan terjadi gangguan pada koordinasi otak dengan mata.

* Mata putih

Katarak pada bayi bisa saja ditemukan yang ditandai dengan bola mata yang terlihat putih. Bila demikian sebaiknya perik-sakan bayi ke dokter ahlinya untuk penanganan lebih dini.

* Tak ada kontak mata

Banyak orangtua yang mengeluhkan bayinya yang hingga usia 12 bulan tak memperlihatkan kontak mata. Si kecil seakan tidak peduli sama sekali dengan keberadaan kita di dekatnya. Ia seolah asyik bermain sendiri. Hal ini bisa saja bukan karena gangguan pada matanya, melainkan gangguan di otak. Jangan salah, gangguan di otak bisa menyebabkan terganggunya kemampuan sosialisasi, interaksi maupun perhatian yang membuat bayi tampak tidak melakukan kontak mata. Salah satu bentuk gangguannya adalah autisme yang penanganannya mesti melibatkan banyak ahli, seperti dokter, psikolog, maupun psikiater.

2. Indra Pendengaran

Untuk mengecek apakah indra pendengarannya normal atau tidak kita bisa melakukan hal-hal berikut:

* Sama sekali tidak terganggu

Bila bayi kita sering tidur pulas dan tidak terganggu oleh suara yang sangat bising, seperti bunyi blender yang sedang berputar, perlu diwaspadai kalau-kalau ia mengalami gangguan pendengaran. Soalnya, bayi umumnya tidak suka dengan suara keras, terutama blender.

* Tidak menunjukkan reaksi

Bila kita membunyikan bebunyian di depannya kemudian bayi tidak menunjukkan reaksi padahal sudah berusia 5 bulan, orangtua juga perlu curiga jangan-jangan pende-ngarannya terganggu.

* Sulit berbicara

Ada bayi yang jarang sekali mengeluarkan suara kalaupun mengeluarkan kadang terdengar aneh. Perkembangan bahasanya pun tampak tertinggal dari bayi-bayi seusianya. Mungkin saja terjadi gangguan pendengaran hingga dia tidak bisa mendengar contoh yang harus ditiru untuk diucapkannya.

Ada banyak alat yang dapat digunakan untuk mendeteksi gangguan pendengaran. Di antaranya adalah Elektroakustik Impedans, ABR (Auditory Brainstem Response) dan OAE (Otoacoustic Emission). Pemeriksaan dengan kombinasi alat-alat ini dapat membantu menegakkan diagnosis gangguan yang terjadi pada bayi.

3. Indra Peraba

Untuk mengecek apakah indra peraba atau perasa bayi normal atau tidak kita bisa melakukan hal-hal berikut:

* Berusaha meraba

Di usia 1-2 bulan, bayi sudah berusaha memegang payudara ibu saat menyusu. Sementara saat umur 2-4 bulan, saat digendong, dia sudah berusaha untuk meraba mulut, hidung, atau telinga ibu atau orang lain yang menggendongnya. Namun rabaan ini belum terlalu sempurna mengingat tangan bayi masih belum membuka sepenuhnya.

* Meraih benda

Saat usianya beranjak 4-6 bulan seharusnya bayi sudah bisa membuka kepalan tangannya dan berusaha meraih benda-benda yang ada di depannya. Namun bila di usia ini tangan anak masih terkepal rapat dan tidak bisa memegang benda-benda yang seharusnya bisa dipegang, orangtua perlu waspada terhadap perkembangan motorik halusnya.

* Sensitivitas

Sejak lahir bayi akan mengungkapkan perasaan tidak nyamannya dengan menangis. Bila hal ini tidak dilakukan bisa dikatakan sensitivitasnya kurang atau mungkin malah terganggu. Bukankah dia tidak bisa membedakan mana keadaan yang nyaman dan mana yang tidak nyaman.

4. Indra Pengecap

Kelainan indra pengecapan jarang ditemukan pada bayi. Umumnya saraf pengecapan yang ada di lidah dan papil-papil lidah tumbuh dengan baik. Papil-papil inilah yang membuat adanya rasa manis, asin, dan pahit.

5. Indra Penciuman

Seperti halnya indra pengecapan, indra penciuman sudah muncul pada bayi baru lahir, terutama di minggu pertama. Bayi sudah dapat mencium aroma tubuh ibunya. Aroma tersebut tercium secara khas yang akan membuatnya nyaman sehingga bayi akan merasa senang bila digendong sang ibu. Tak heran banyak bayi yang lebih cepat reda tangisnya bila digendong ibunya. Sebaliknya, bila ada orang lain yang aromanya berbeda mendekatinya, ia akan merasa tak senang.

Selain itu, bayi juga memiliki kemampuan melokalisasi bebauan/aroma tertentu. Hal ini sering kali ditunjukkan dengan tolehan kepalanya ke arah ibu yang ada di sampingnya. Nah untuk mengecek apakah indra penciumannya baik atau tidak cobalah berada di sampingnya saat dia sedang bermain. Bila dia menoleh berarti indra penciumannya tumbuh dengan baik.

Berbeda dengan indra penglihatan, pendengaran, dan peraba, indra penciuman tak perlu dirangsang secara khusus. Indra penciuman sudah terlatih dengan sendirinya. Bahkan terkadang, indra penciuman bayi justru lebih peka ketimbang milik orang dewasa. Untuk itu sebaiknya kita mengenali bau-bauan yang disukai bayi dan yang bisa membuatnya merasa nyaman, termasuk bau bedak, sabun, maupun sampo bayi.

Narasumber:

Ratih Andjayani Ibrahim, Psi., MM.,

dari Personal Growth danLPT (Lembaga Psikologi Terapan) Universitas Indonesia

 




    Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s



%d bloggers like this: