Bolehkah Memanjakan Bayi?

parent-guide.jpg

Sebagian kita masih belum paham betul arti ¡¥memanjakan¡¦ bayi. Tak heran muncul keraguan, boleh atau tidak melakukannya?

Tidak ada orangtua yang ingin punya anak manja. Anak yang egois, penuntut, tidak bisa menenggang orang lain, selalu berpikir bahwa diri dan kebutuhannyalah yang lebih penting di atas segalanya, dan bersedia melakukan apa saja untuk meraih keinginannya.

Maka banyak orangtua yang berusaha mencegah anaknya jadi manja sejak bayi. Ada yang sengaja tidak segera merespon saat bayinya menangis atau membiarkannya menghentikan sendiri tangisannya. Ada juga yang memutuskan tidak mau sering-sering menggendong bayi. Tapi toh masih ada yang ragu. Benarkah merespon dan menenangkan tangis bayi sesegera mungkin disebut memanjakan? Benarkah sering menggendong, mendekap dan menciumi bayi juga disebut memanjakan? Tidak bolehkah orangtua mengekspresikan cintanya terhadap bayi?    

Antara Memanjakan dan Mencintai
Agaknya bagi sebagian orangtua belum jelas betul apa yang dimaksud dengan memanjakan. Memanjakan, dalam arti membiarkan anak jadi penuntut egois yang tak mau menenggang orang, bukanlah mencintai. Bahkan keduanya tak bisa disatukan. “Anda tidak bisa memanjakan dengan cinta,” kata Margaret Paul, PhD, penulis buku Do I Have to Give Up Me to be Loved by My Kids? dan Inner Bonding.
  
Anak-anak, imbuh Paul, membutuhkan cinta seperti halnya mereka memerlukan makanan dan air. “Cinta adalah energi penerimaan atas siapa diri anak sesungguhnya. Cinta adalah pengertian, belas kasih, dan perhatian. Anda mencintai anak saat Anda bersama mereka, menghabiskan waktu dengan mereka, hadir sepenuhnya bersama mereka, dan mendengarkan mereka sungguh-sungguh. Pemberian terbesar yang dapat Anda berikan pada anak adalah menghargai mereka atas apa yang ada dalam diri mereka. Inilah cinta, dan tidak ada materi apapun yang dapat menggantikannya,” papar Paul panjang lebar dalam ulasannya pada sheknows.com.

Sebaliknya, pemanjaan sama sekali tidak dibutuhkan anak. Paul memakai istilah ‘memanjakan’ untuk menggambarkan tindakan orangtua ‘memberikan segala sesuatu yang diinginkan anak alam tingkatan materi’. Apa saja tindakan yang masuk dalam gambaran ini? Paul menyebutkan setidaknya tiga. Pertama, memberi anak terlalu banyak mainan, kegiatan, makanan dan sebagainya sehingga membuat anak ketagihan. Kedua, memenuhi semua tuntutan anak dengan mengabaikan kebutuhan orangtua, sehingga anak tidak belajar menghargai kebutuhan orang. Ketiga, menimbun anak dengan kepemilikan materi, sehingga rasa harga diri anak bergantung pada pengakuan orang atas kepemilikannya. Perhatikanlah bahwa semua tindakan di atas mengandung dampak negatif untuk anak.  

Memenuhi Kebutuhan „j Memanjakan
Kini kita tahu, bersikap penuh perhatian, belas kasih dan pengertian terhadap anak bukanlah memanjakan, sekalipun ia masih bayi. Hal ini ditegaskan pula oleh Ellen Abell, spesialis penyuluhan pengembangan anak dan keluarga yang juga assistant professor bidang family and child development pada University of Auburn, Amerika Serikat. “Orangtua tidak akan memanjakan bayi dengan memenuhi kebutuhan-kebutuhannya,” kata Abell dalam ulasannya yang berjudul Can I Spoil My Baby?.

Apa saja kebutuhan bayi? Tentu saja bayi perlu sesuatu untuk menghilangkan laparnya, perlu sesuatu agar merasa nyaman (tidak kepanasan, kedinginan, kesakitan, gatal, basah, lengket, kotor dan sebagainya). Bayi juga perlu sesuatu yang bisa memberinya rasa aman, ketenangan dan perhatian. Tapi berhubung bayi belum dapat memberi makan atau menenangkan diri sendiri, ia harus mencari bantuan – biasanya lewat tangisan. “Orangtua yang merespon kebutuhan sejati bayi atas kenyamanan dan perhatian, bukanlah memanjakan. Mereka justru tengah membangun pondasi yang kuat bagi anaknya agar kelak jadi insan yang cakap dan penuh perhatian,” terang Abell.    

Perlakukan Bayi Sesuai Kebutuhan
Yang perlu diingat, kebutuhan bayi tidak akan sama seterusnya. Oleh karena itu perlakuan kita terhadap bayi pun perlu berubah seiring kematangannya  secara sosial dan fisik. Menurut Abell, bayi yang keperluannya telah direspon penuh kepekaan oleh orangtuanya selama 3-6 bulan pertama biasanya lebih bisa menenangkan diri sendiri dalam beberapa situasi tertentu, sehingga ia mungkin tidak perlu perhatian yang persis sama dengan perhatian yang didapat saat usianya lebih muda. “Bayi usia 7 bulan yang rewel, misalnya, mungkin tidak perlu digendong-gendong ke sana kemari kalau menangis. Bisa jadi ia malah bisa menenangkan diri sendiri kalau diberi mainan atau diberi kesempatan merangkak-rangkak di lantai.”
  
Perlakuan kita terhadap bayi juga perlu berubah mengikuti pertambahan kemampuan bayi melakukan sesuatu sendiri. “Cobalah menghindarkan kebiasaan melakukan hal-hal untuk bayi Anda yang sebenarnya bisa ia lakukan sendiri,” saran Abell. Sekedar contoh, jika si kecil sudah mampu duduk dan meraih sendiri benda-benda yang ada didekatnya, biarkanlah ia mengambil sendiri mainannya yang terjatuh dari tangannya. Biarkan juga ia meraih makanan dari piring dan menyuapkan ke mulutnya. Tidak usah selalu kita ambilkan atau suapkan. 

Induk burung mencintai bayinya dengan menyuapkan makanan, mendekap penuh kehangatan,dan melindungi dari serangan.   Tapi tak akan ia biarkan    bayinya berlama-lama di sarang. “Kamu harus belajar terbang!” PG




    Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s



%d bloggers like this: