AYAH PUN DAPAT TINGKATKAN EQ BAYI!

nakita.gif

Ingin si buah hati memiliki EQ positif? Keterlibatan ayah ternyata memberi andil dalam menciptakan suasana ceria di rumah yang berdampak positif pada anak. Yang pasti, jangan sering-sering menunjukkan wajah kusut, kesal dan gampang marah. Melainkan perbanyak senyum dan perlihatkan raut wajah ceria. Segala tingkah laku ayah ternyata juga akan dipelajari bayi yang kemudian akan ditirunya.

* Kikis Kecemburuan Selagi Usia 0-3 Bulan

Banyak ayah yang menaruh cemburu pada bayinya sendiri. Hal ini umumnya terjadi lantaran perhatian istri lebih tercurah pada bayi dibanding suami. Wajah ayah yang “terlipat” oleh cemburu akan membuat emosi bayi tumbuh negatif. Imbasnya, ia tidak terlihat ceria, tak gampang senyum, dan sebagainya. Apalagi bila kecemburuan suami sempat membuat si ibu jadi stres, otomatis bayi pun bisa merasakannya dan ikut-ikutan stres juga.

* Bersikaplah Ceria

Mulai usia 3 bulan, bayi mulai berusaha untuk mengamati orang-orang yang ada di sekitarnya. Dia akan belajar mengenali mimik ayah dan ibunya apakah sedang bersikap ceria, kesal, marah, dan lainnya. Mintalah suami untuk tidak menunjukkan wajah masam. Dengan begitu suasana emosi bayi pun akan didominasi keceriaan. Sebaliknya, bila yang kerap dilihatnya adalah wajah-wajah yang cemberut dan tampak kesal, bayi pun akan mudah tersulut amarah bila keinginannya tak terpenuhi.

* Jadilah Ayah yang Bijak

Menginjak usia 6-8 bulan, kemampuan bayi mengungkapkan perasaannya sudah lebih beragam. Bayi sudah bisa mengungkapkan rasa sedih, gembira, takut, marah secara lebih baik dari sebelumnya. Bila sebelumnya

bayi hanya berekspresi gembira saat menatap wajah ayahnya, kini dia sudah bisa mengungkapkan kegembiraannya terhadap mainan yang didapat sekaligus memamerkan kegembiraannya pada kita lewat senyuman, ocehan, maupun tawa. Menghadapi hal seperti ini, bijaklah bersikap dengan memberi respons positif. Ingat, tindakan-tindakan positif ini merupakan dasar interaksi yang perlu dikembangkan. Tidak menanggapinya atau menunjukkan sikap galak/ketus hanya akan membuat bayi enggan mengungkapkan kesenangannya. Kalaupun diungkapkan mungkin lewat ungkapan emosional yang lain, semisal teriak.

* Berempati

Ungkapan emosi bayi di usia 9-12 bulan juga sudah lebih beragam. Dia tak lagi hanya tersenyum atau tertawa saat senang, melainkan juga terungkap ketika mengangkat tangannya atau bahkan melempar mainan. Responslah secara baik, semisal dengan mengucapkan kalimat, “Wah, anak ayah sedang gembira, ya!” Respons seperti ini menunjukkan pada bayi bahwa kita ikut merasakan kegembiraannya. Hal ini amat baik sebagai stimulus emosi yang positif. Sebaliknya, bila anak kesal kemudian membanting mainannya, kita pun tetap perlu memberikan respons. “Kamu kesal ya tidak bisa ambil mainan? Sini ayah ambilkan,” misalnya. Respons seperti ini membantu anak untuk keluar dari rasa kesalnya sehingga tak perlu berlarut-larut yang membuat hatinya jadi gundah yang jelas-jelas tak sehat bagi pertumbuhan emosinya.

Irfan Hasuki. Foto: Iman/nakita

Konsultan ahli:

Any Reputrawati, Psi;

psikolog RS Persahabatan, Rawamangun, Jakarta Timur

z




    Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s



%d bloggers like this: