TANGIS “SI BAU TANGAN”

nakita.gif


Ibu Lyra, menulis surat kepada nakita beberapa waktu lalu: Bayi saya yang berusia 5 bulan sepertinya mulai “bau tangan”. Ia menangis kalau minta digendong, terutama di siang hari dan saat mau tidur. Sekarang malah sudah lebih pintar menangisnya. Biasanya kecil, kalau lama dicuekin baru keras. Sekarang nangisnya langsung keras dan jerit-jerit. Memang, pengasuhnya sering menggendongnya saat ia menangis, minum susu, dan mau tidur. Tapi saya tidak mau membiasakannya digendong. Jadi, kalau menangis, saya biarkan sambil dipeluk, dibelai, dibujuk, dan diciumi. Kalau nangisnya tidak reda dan tambah menjerit baru saya gendong. Itu pun cuma sebentar saja.

Apakah tindakan saya membiarkannya menangis berbahaya bagi perkembangan mentalnya? Apakah akan membuatnya tidak dekat dengan saya dan merasa tidak disayang? Sebaiknya saya harus bagaimana? Berapa lama bayi boleh dibiarkan menangis? Soalnya kalau tidak minta
digendong, ditinggal sendirian pun ia main sendiri dan baru menangis jika sudah bosan.

AMATI

Mau tahu jawaban dari sederet kekhawatiran tentang bayi “bau tangan” dan kurang kasih sayang? Simak saja penjelasan Dra. Mayke S. Tedjasaputra, MSi. Menurutnya, kalau bayi menangis dan ingin digendong karena merasa bosan, itu sih lumrah. Jadi, sungguh tidak tepat apabila membiarkannya menangis terus. Apa akibatnya bila ibu membiarkan bayi menangis terus, padahal saat itu dia sangat butuh untuk ditenangkan? Kalau keadaan semacam ini terjadi berulang-ulang, lama kelamaan bayi tidak membentuk rasa percaya (trust) pada ibunya (atau pengasuhnya), karena ia merasa tidak diperhatikan dan tidak disayang.

Nah, untuk dapat menyikapi tangisan bayi, ibu harus tahu arti tangisannya. Dari situ baru dapat dilakukan tindakan yang tepat. Bayi “bau tangan”? Tak ada istilah ini kalau ibu mempelajari tangisannya dengan cara mengamati kebiasaan si kecil. Bisa saja dia menangis karena ada sesuatu yang dirasakan tidak nyaman dan membutuhkan gendongan sebagai cara untuk meredakan rasa tidak nyamannya.

Memang sih, tidak ada seorang pun yang suka mendengar tangisan bayi, dan hal ini secara alamiah sudah diciptakan karena memiliki maksud tertentu. Tangisan bayi merupakan cara dia berkomunikasi dengan orang-tuanya (orang lain), untuk menunjukkan bahwa dia membu-tuhkan sesuatu (perhatian) dan tanggapan (respons). Setiap bayi memiliki tangisan khas yang mewakili kebutuhan tertentu. Makna dari tangisan bayi bisa dikenali dari tinggi-rendahnya nada suara tangisan (pitch), frekuensi, dan lamanya tangisan terhenti. Dr Barry Lester (dalam Shapiro, 2003) sudah melakukan penelitian arti tangisan bayi selama dua puluh tahun lebih. Dia menyatakan bahwa setiap bayi mempunyai dua belas macam tangisan. Sekalipun demikian, terdapat variasi tangisan antara satu bayi dengan bayi lainnya.

Tugas pertama ibu dan ayah adalah melatih diri menjadi “pengamat”. Dengan begitu, akan terlatih kejelian mengasosiasikan tangisan dengan peristiwa yang berlangsung. Mungkin karena bayi mengantuk kurang tidur, lapar karena minum susu tidak sesuai dengan kebiasaannya, bosan karena sudah lama dibiarkan sendirian, dan seterusnya.

KENALI TANGISAN BERAT

Perlu diingat, ada tangisan berat yang tidak bisa diredakan hanya dengan pelukan, belaian, atau keberadaan kita di sampingnya. Apa saja dan bagaimana mengatasinya?

1. Kolik

Kolik adalah istilah medis bagi rasa nyeri di perut akibat gangguan pada usus. Sebagai tandanya, bayi akan menangis keras terus-menerus, disertai wajah kemerahan atau terkadang pucat, dan perut kembung dan terasa keras bila diraba. Bila koliknya terus berlanjut biasanya bayi akan menekuk tungkainya ke arah perut dengan kedua tangan mengepal menahan rasa sakit.

Biasanya kolik terjadi pada bayi yang masih berusia kurang dari 3 bulan. Ini bisa dimaklumi karena sistem pencernaannya belum sempurna. Lewat usia ini umumnya kolik semakin jarang dialami. Bahkan bayi di atas 6 bulan lazimnya tak mengalami kolik lagi. Namun, hingga saat ini penyebab kolik belum diketahui pasti. Jadi, hanya berupa dugaan terhadap proses pencernaan bayi yang belum sempurna. Mungkin saja terjadi kejang otot dinding usus akibat adanya udara dalam usus gara-gara salah posisi saat menyusu.

Dugaan lain, bayi dalam kondisi terlalu lapar namun tak segera mendapatkan ASI sebagai makanannya hingga udara sempat masuk kemudian mengisi rongga usus. Kemungkinan berikutnya, bisa saja akibat pemberian susu yang terburu-buru hingga angin ikut masuk. Dugaan-dugaan tersebut muncul berdasarkan pengamatan saat bayi mengalami kolik, yakni kembung dan mengangkat kakinya seakan menahan sakit di perut.

Cara mengatasi: Penanganan menangis akibat kolik agak berbeda dengan jenis tangis yang lain karena sumber sakitnya berada di dalam usus yang tidak bisa dihilangkan begitu saja. Bila bayi kolik usahakan bisa buang angin (kentut) atau bila memungkinkan BAB agar perutnya kosong. Caranya, tidurkan bayi lalu miringkan ke arah kanan. Posisikan lengan kanan di bawah kemudian selipkan guling di antara ke dua kakinya. Lakukan beberapa menit sampai bayi kentut.

Bila tangisnya tak kunjung reda bahkan semakin intens, segeralah minta pertolongan dokter. Apalagi bila bayi terlihat gelisah, sering terjaga dari tidur dan terus-menerus meringis kesakitan. Mungkin saja kolik hanya menjadi salah satu penyebab karena ada gangguan lain yang harus didiagnosis dokter.

Sebenarnya, kolik dapat dicegah. Caranya? Berikan ASI atau susu formula ketika bayi terlihat lapar atau haus agar bagian perutnya yang kosong tidak terisi angin. Selain itu, saat menyusui atau memberinya susu formula, tinggalkan segala keterburu-buruan yang hanya membuka peluang bagi udara ikut masuk. Berikan jeda sesaat selagi memberikan ASI dari payudara yang kiri dengan yang sebelah kanan. Nah, selagi jeda tadi, sendawakan bayi dengan cara mendirikan tubuhnya di dada kita lalu tepuk punggung dan pundaknya secara perlahan.

2. Penyakit

Tangis bayi yang tidak lazim bisa juga disebabkan oleh penyakit tertentu, di antaranya ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Atas), radang tenggorokan, radang telinga, hernia, sumbatan usus, dan radang pencernaan.

Namun bila benar si kecil menangis karena penyakit, biasanya disertai gejala/keluhan lain, seperti suhu tubuh yang meninggi, sulit buang air, rewel terus-menerus, tak mau menyusu dan sebagainya.

Cara mengatasi: Mengingat usia si kecil yang masih sangat muda, bila muncul gejala-gejala penyakit, segeralah bawa bayi ke dokter untuk mendapat penanganan intensif. Sedangkan yang bisa dilakukan orangtua di rumah untuk meredakan tangisnya hanyalah memberinya kenyamanan dengan menggendong, membelai, dan sebagainya. Untuk langkah selanjutnya, konsultasikan dengan dokter berdasarkan kasus yang dialami bayi.

Tangisan Bayi Usia 0-3 Bulan

* Lapar/Haus

Cara mengatasi: Prioritaskan pemberian ASI kapan pun ia membutuhkannya (on demand) sampai si kecil benar-benar kenyang menyusu. Susui kembali ketika dia terlihat haus/lapar lagi. Tak perlu membuatkan jadwal ketat soal pemberian ASI.

* Bosan

Cara mengatasi: Ajaklah ia bermain untuk mengusir rasa bosannya. Bermain bisa dengan mengajaknya bercakap-cakap, menggerakkan tangan atau menggendongnya dalam posisi tegak lurus dengan perut menempel di dada. Kita pun bisa menepuk-nepuk punggungnya dengan lembut sambil berjalan-jalan ke ruangan lain atau sekadar mengelilingi ruangan agar ada pergantian suasana.

* Kesepian

Cara mengatasi: Misalnya saat menjelang tidur, bayi ingin ditemani tetapi ayah atau ibu disibukkan oleh pekerjaan lain, maka dia akan menangis. Temanilah dulu barang sejenak, dia bukan ingin menguasai Anda, tetapi sekadar membutuhkan perhatian. Jika bukan jamnya tidur, redakan tangisnya dengan mengajaknya bermain, ngobrol, atau menggendongnya bila perlu.

* Lelah

Cara mengatasi: Perhatikan jadwal tidur anak agar dapat diketahui, mengapa bayi menangis. Usap/belailah dari kepala hingga kaki dengan pelan dan lembut. Sedapat mungkin gunakan gerakan berirama yang akan sangat membantunya untuk relaks hingga akhirnya tertidur.

* Tak Nyaman

Cara mengatasi: Terlebih dulu carilah penyebabnya mengapa dia menangis. Bila risih karena basah dan kotor terkena BAB-nya sendiri, ya segera bersihkan lalu gantilah pakaiannya. Kalau sudah dibersihkan dan diganti celananya, tangisnya tak kunjung berhenti, cobalah menggendongnya sambil membelai-belai punggungnya.

Komunikasi Tangisan Bayi 4-12 Bulan

Berbeda dengan usia sebelumnya, di usia ini intesitas tangisan bayi sudah mulai menurun. Soalnya, ia mulai berinteraksi dengan orang lain dan terlihat amat tertarik terhadap sekelilingnya.

* Lapar dan Haus

Cara mengatasi: Gerakan kepala dan mulutnya semakin lincah mengarah ke payudara ibu. Atau pada bayi yang lebih besar lazimnya sudah bisa menunjuk ke arah makanan. Ibu akan lebih mudah menebak apakah tangisan bayinya merupakan pertanda lapar/haus atau bukan.

Berikan ASI. Penuhi kebutuhan si kecil dengan memberinya bubur susu jika sudah memasuki masa peralihan dari makanan cair ke makanan semipadat (mulai usia 6 bulan).

* Cemas

Cara mengatasi: Kecemasan mulai bisa dirasakan bayi usia 6-8 bulanan, terutama ketika ia kehilangan sosok yang selama ini dekat dengannya. Misalnya, ditinggal mandi, beribadah, dan berangkat kerja. Bagi bayi, orangtua adalah dasar dari rasa amannya, karena itu segera temui anak setelah semua kegiatan tersebut terselesaikan. Yakinkan si kecil bahwa kita tidak benar-benar meninggalkannya untuk jangka waktu lama. Kalaupun waktu cuti sudah habis dan harus bekerja kembali, latihlah anak secara bertahap untuk bisa berpisah selama sekian jam. Jangan pernah membohonginya atau diam-diam meninggalkannya tanpa pamit.

* Ingin Diperhatikan

Cara mengatasi: Di usia 6 bulan bayi mulai “pandai” menggunakan tangisan untuk cari perhatian. Harap dicatat, di usia ini bayi adalah pembelajar ulung yang jeli mengamati perilaku yang ada di lingkungannya kemudian mencontohnya dalam kesehariannya. Nah, di usia 7-8 bulan bayi akan lebih sering memanfaatkan tangisan untuk cari perhatian. Namun amat disarankan untuk tidak terburu-buru menggendongnya, melainkan cukup mengajaknya bermain.

* Kesakitan

Cara mengatasi: Kalau merasa kesakitan, pasti bayi akan menangis untuk mengungkapkan yang dirasakannya. Contohnya, ketika diimunisasi. Berikan perhatian terhadap rasa sakitnya tanpa kesan berlebihan. Lalu alihkan perhatiannya pada bentuk keasyikan lainnya agar ia dapat melupakan rasa sakitnya. Akan tetapi tinggalkan cara menghibur dengan cara salah. Misalnya mencari kambing hitam dengan menyalahkan dokter atau menghentak dan menyalahkan lantai jika ia terjatuh.

* Lelah

Cara mengatasi: Lelah berlebihan ini lazimnya disebabkan lantaran si kecil memiliki kehidupan yang penuh dengan pengalaman baru. Mengeksplorasi dunia baru dapat membuatnya kehabisan energi sebelum akhirnya kehilangan semangat. Hal yang harus dilakukan adalah membantunya supaya ia punya cukup waktu istirahat guna memulihkan kondisi tubuhnya.

* Marah

Cara mengatasi: Datangi anak dan tanyakan apa yang diinginkannya. Bila memungkinkan, penuhi keinginannya. Namun bila menyangkut hal yang membahayakan segeralah beri penjelasan sederhana alasan orangtua melarang/tidak memenuhi keinginannya. Tapi jangan lupa, barengi dengan upaya untuk mengalihkan perhatiannya.

KONDISI BENTUK/MACAM TANGISAN
Bayi lapar Mula-mula terjadi tangisan secara ritmis. Sejenak kemudian, ada tangisan keras yang berlangsung singkat, diikuti oleh jeda beberapa saat sebab ia perlu bernapas. Kemudian, tangisan semakin sering dan makin keras dan baru terdiam setelah diberi susu.
Terlampau kenyang Sampai usia enam atau delapan minggu, bayi belum mampu mengatur volume susu yang diminum. Ia akan menghabiskan susu yang diberikan kepadanya. Kadang-kadang, bayi yang lebih besar pun tetap mengisap demi rasa nyaman, padahal yang diminum melebihi kebutuhannya. Mengingat lambungnya kecil dan sistem pencernaan bayi belum matang, maka kalau terlalu banyak minum susu, akan muncul rasa tidak enak, susu/makanan keluar lagi (gumoh), jadilah bayi menangis segera setelah minum susu (atau makan).
Merasa lelah Saat mengantuk atau terlalu lelah, biasanya bayi menjadi rewel. Tangisannya berfluktuasi dalam hal nada serta volume suara dan tidak teratur. Tanda-tanda lainnya adalah mengisap jari, mengucek-ngucek mata, menepuk-nepuk telinga, terlihat gelisah dengan sesekali memutar kepalanya dari satu sisi ke sisi lain.
Kesakitan Secara tiba-tiba bayi menangis dengan suara keras, melengking. Setengah berteriak, tangisannya panjang. Tubuhnya menegang, wajahnya memperlihatkan rasa tidak nyaman. Ketidaknyamanan ini bisa disebabkan oleh kakinya terjepit, atau tak sengaja tertusuk peniti.
Merasa terganggu Karena terlalu banyak diberi stimulasi, bayi menjadi kesal, merasa terganggu. Tangisannya keras dan panjang. Cara-cara yang biasa digunakan untuk menenangkan tangisannya tidak mempan. Setelah berusaha menenangkan, biarkan dia sendirian untuk beberapa menit. Tangisannya merupakan usaha untuk meredakan ketegangan dirinya, setelah ketegangan mereda, usaplah tubuh anak, kalau perlu berikan susu.
Sedang sakit Tangisan mirip dengan tangis kesakitan, namun suaranya lebih lemah.
Pipis atau BAB Tangisan muncul karena bayi merasa tidak nyaman, ditandai oleh tangisan dengan suara keras dan seperti berteriak seakan-akan kesakitan. Sementara napasnya agak tersendat karena temponya berubah lebih cepat disusul dengan suara tangisan berikutnya.
Merasa Ketakutan Tangisan tiba-tiba, keras dan melengking, seperti megap-megap untuk menarik napas. Yang memicu hal ini adalah kepekaan bayi terhadap suara bising. Biasanya tangisan tiba-tiba itu menghilang kalau rasa takut sudah teratasi.
Marah atau frustrasi

Terlalu aktif bergerak atau distimulasi bisa saja membuat bayi merasa lelah. Saat merasakannya, bayi biasanya akan merengek, gampang marah dan akhirnya meledaklah tangisnya. Layaknya orang dewasa, ambang frustrasi setiap bayi berbeda-beda. Ada yang mudah sekali frustrasi dan hal ini perlu dicermati oleh orangtua. Perhatikan mimik wajahnya, bibir ditarik, memalingkan muka atau tubuhnya, tanda bahwa dia tidak menyukai apa yang anda lakukan. Kemarahan/kekesalan yang dirasakannya sudah mulai bisa diekspresikan dengan menangis saat berusia sekitar 9 bulanan. Kekesalan/kemarahan ini sendiri bersumber dari dalam diri anak yang sudah mulai berkembang konsep “Saya ingin.” Bila keinginannya tidak terpenuhi, dia akan marah dengan cara menangis.

Bosan atau kesepian Tangisan yang pendek-pendek diikuti keheningan sesaat kemudian menangis secara pendek lagi, itulah tandanya ia sedang bosan atau kesepian. Tangisan kesepian kadang diiringi deraian air mata.

 

Setelah mengamati bentuk tangis bayi, lalu apa tindakan yang sebaiknya dilakukan? Dr. Najib Advani SpA. MMed. Paed., dari FKUI/RSUPN Cipto Mangunkusumo Jakarta, bilang ada dua alasan utama mengapa bayi menangis. Pertama, tangis tanpa penyakit yang disebabkan bayi lapar, haus, dan merasa tak nyaman (nyeri saat tumbuh gigi, merasa sepi atau kelelahan). Kedua, tangis bayi yang disebabkan ketidaknyamanan karena sakit, seperti infeksi sistem pencernaan, infeksi saluran napas, radang tenggorokan, mual, hernia, sumbatan di usus dan sebagainya.

Jika pemicu tangisannya diduga karena penyakit tentu harus segera dibawa ke dokter guna mendapat penanganan tepat. Namun jika pemicunya bukan penyakit, orangtua dapat melakukan penanganan sendiri.




    Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s



%d bloggers like this: