NGENYOT JARI, BOLEH ENGGAK SIH?

nakita.gif

Berikut solusi yang ditawarkan.


Mengisap sebetulnya merupakan salah satu refleks yang diberikan Tuhan agar bayi dapat bertahan hidup. Tanpa perlu diajari atau dilatih, bayi otomatis dapat mengisap puting payudara ibu secara naluriah.

Sigmund Freud seorang ahli psikoanalisa terkemuka menjelaskan lebih jauh, bahwa refleks mengisap merupakan cerminan dari fase oral yang sedang terjadi pada bayi. Fase yang berlangsung sejak bayi lahir hingga usia 18 bulan ini membuat bayi mendapat kepuasan lewat sensasi di sekitar mulutnya.

Berdasar teori tersebut, baru dikatakan tidak wajar bila lewat usia 18 bulan, anak masih mempertahankan kebiasaan ngenyot jari. Dengan alasan itu, Maria Herlina Limyati, Psi., dari Fakultas Psikologi UKRIDA, Jakarta Barat, berpendapat, orangtua tidak perlu terlalu memusingkan kebiasaan si kecil ini, “Toh, nanti jika usianya sudah lewat dari fase oral, bayi dapat berhenti ngenyot jari.”

Maria mengakui kalau ada beberapa ahli yang memiliki pendapat berseberangan. Mereka menganggap kebiasaan ngenyot jari ini harus dicegah dan dihilangkan karena akan berdampak buruk. Selain pertumbuhan gigi bayi kelak terganggu, secara psikologis anak pun akan sulit meninggalkan kebiasaan ini karena ia keburu merasa aman dan nyaman (secure feeling). Ngenyot jari pun berubah dari suatu kebiasaan menjadi sebuah kebutuhan. Selanjutnya, bila kebiasaan ini terus terbawa hingga anak besar, ia akan jadi bahan ejekan teman-temannya yang pada akhirnya akan berpengaruh pada pembentukan konsep diri si anak.

DIKHAWATIRKAN

Jadi yang mana yang benar dong? Dari hasil penelitian yang dilakukan American Dental Assosiation, terbukti sebagian besar anak yang mengisap jempol (bahkan hingga usia 5­6 tahun) tidak mengalami kerusakan gigi atau gusi dan gigi permanen. Secara psikologis pun mereka tetap tumbuh dengan baik.

Kerusakan pada gigi hanya dapat terjadi bila kebiasaan mengisap jari/jempol dilakukan secara agresif (dengan cara mendorong-dorong lidah ke depan hingga mengenai gigi). Namun, bayi biasanya tidak akan melakukan perilaku ini kecuali oleh anak-nak yang sudah besar (balita). Jadi sekali lagi, selama kebiasaan mengisap jari/jempol merupakan bagian dari proses pertumbuhan bayi (karena masih dalam fase oral), maka tak perlu melarangnya. Menghentikan kebiasaan ngenyot jari mungkin justru akan sia-sia jika terlalu dipaksakan. Semakin dilarang, keinginan bayi untuk mengisap jari makin besar. Untuk itu, biarkanlah bayi menghentikan kebiasaannya itu secara alami dan atas dasar keinginannya sendiri.

Pesan Maria, saat si kecil dalam fase oral, pastikan jari dan benda di sekeliling si kecil (yang bisa dia pegang dan masukkan ke dalam mulut) keadaan bersih dan higienis. “Kebiasaan ini bila tidak dijaga bisa membuahkan infeksi pada si kecil, karena dia ngenyot jarinya yang kotormengandung kuman.”

CARA MENGHENTIKAN

Toh, kalau Ibu khawatir kebiasaan ini akan terbawa selepas masa bayi, ibu bisa mengurangi intensitas bayi mengemut jarinya dengan beberapa cara di bawah ini. Namun ingat ya jangan menghukum atau memarahi bayi bila mendapatinya sedang mengisap jari. Si kecil akan bingung karena ia tidak melihat sesuatu yang salah dengan kebiasaan yang membuatnya nyaman itu.

Perhatikan juga kapan biasanya bayi mulai memasukkan jarinya ke mulut. Biasanya saat ia berada dalam suasana emosional yang tidak menyenangkan (bosan, lelah, takut atau cemas menghadapi sesuatu yang baru dalam hidupnya). Dengan ngenyot jari, ia mendapatkan ketenangan dan kenya-manan.

Berikut beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mengurangi intensitas bayi mengemut jari:

1. Alihkan perhatian pada aktivitas lain. Contoh, kalau kebiasaannya ngenyot itu muncul setiap ia sedang menganggur atau bosan, cobalah ajak ia bermain.

2. Apabila ia mengemutnya saat sedang gelisah atau sedih dengan tujuan menenangkan dirinya sendiri, posisikanlah diri kita sebagai si penenang, alias pengganti jari yang diemutnya. Beri ia perhatian lebih, entah itu dengan belaian, sapaan dan kata sayang yang bisa menenangkan hatinya sehingga ia lupa untuk mengemut.

3. Bila kebiasaan itu muncul setiap kali ia lapar, perhatikan jam biologisnya. Jika tampak tanda-tanda ia lapar, ajak bayi menyusu ASI atau makan dengan menu makanan favoritnya (bila memang sudah masuk dalam tahapan makan makanan semipadat/padat).

4. Jangan mengganti kebiasaan ngenyot jari dengan empeng. Empeng hanya memberi kepuasan palsu dan dikhawatirkan efek psikologisnya terbawa terus sampai dewasa.

5. Jika si kecil sudah agak besar (sudah bisa duduk sendiri) lakukan hal di bawah ini:

Kenalkan cara minum menggunakan gelas.

Jelaskan kebiasaan bahwa ngenyot jari dapat berakibat buruk. Seperti kuman bisa masuk ke dalam tubuh bila tangannya tidak bersih, dan sebagainya.

Alihkan perhatiannya pada hal lain yang juga mendatangkan kepuasan. Contohnya dengan memperkenalkannya pada beberapa jenis mainan baru, bunyi-bunyian dan sebagainya.




    Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s



%d bloggers like this: