Menyusui Bayi yang Sering Menangis

parent-guide.jpg

Bayi yang sering menangis membuat ibu merasa sangat kerepotan saat menyusuinya. Apa jalan keluarnya, agar kegiatan menyusui tetap berjalan baik?

Bayi yang sering menangis memang tantangan tersendiri bagi ibu yang ingin menyusui secara eksklusif. Selain beban perasaan dan pikiran, ibu harus mencurahkan energi dan waktu lebih banyak untuk menenangkan bayi. Ibu juga perlu memberi perhatian dan kesabaran ekstra untuk tetap bisa memberikan ASI. Tidak heran, banyak ibu yang akhirnya gagal menyusui eksklusif karenanya. Adakah jalan keluar agar kegiatan menyusui tetap berjalan baik?

Sulit Mengisap dan Menelan

Tantangan menyusui bayi yang sering menangis adalah, bayi tidak mampu mengisap dan menelan dengan baik. Saat menangis, bayi acap membuka mulut lebar-lebar untuk menyuarakan tangisannya. Bila disodorkan payudara, belum tentu ia mau mengisap. Kalau pun mau, mungkin bayi akan sering melepas isapannya. Posisi mengisap pun akan tidak sempurna, karena saat menangis bayi sering harus ambil nafas lewat mulut.

Saat menangis bayi juga sulit menelan karena adanya isak tangis tak teratur dan tarikan nafas lewat mulut. Jika dipaksa menelan ASI, bukan tidak mungkin akan masuk ke rongga hidung dan menyebabkan tersedak. Itulah sebabnya, menurut konsultan menyusui bersertifikat internasional, dr. Utami Roesli, SpA., MBA., menyodorkan payudara ke mulut bayi yang sedang menangis tidak disarankan. “Kecuali kalau bayinya menangis karena lapar,” ujar ketua Sentra Laktasi Indonesia ini. Bayi yang menangis lapar biasanya berhenti menangis begitu disodorkan payudara.

Tenangkan Dulu

Jika Anda memiliki masalah serupa, Anda sebaiknya menenangkan si kecil dulu sebelum menyusuinya. Cara terbaik untuk menenangkannya, “Cari penyebab bayi sering menangis, lalu atasi,” tegas dr. Utami.
Apa saja penyebab bayi menangis? Ketidaknyamanan (merasa kotor, kedinginan atau kepanasan), kelelahan (terlalu banyak dikunjungi), kesakitan atau penyakit (biasanya ditandai pola tangisan yang berubah-ubah),

Dan lapar (tidak mendapat cukup ASI) adalah beberapa alasan bayi menangis yang cukup dikenal. Tapi ada juga alasan yang tidak terlalu dikenal, yaitu: lapar karena sedang mengalami percepatan pertumbuhan (biasanya di usia 2 minggu, 6 minggu dan 3 bulan, tapi bisa juga di waktu lain), makanan ibu (yang tidak bisa ditolerir bayi – kadang susu sapi), obat-obatan ibu (termasuk kafein, tembakau dan obat-obat lain), kebanyakan mengkonsumsi foremilk (ASI awal yang rendah lemak sehingga bayi cepat lapar, karena tidak menyusu pada satu payudara sampai tuntas), dan ‘selera tinggi’ bayi (ingin disentuh dan digendong lebih sering – biasanya karena sering ditinggal ibunya atau tidur terpisah dengan ibunya).

Nah, sekarang Anda bisa memutuskan tindakan apa yang akan dilakukan untuk menenangkan bayi Anda. Menggendong atau mengelus punggungnya? Berhenti minum susu atau mengurangi minum kopi dan teh? Semoga kini Anda lebih percaya diri dan tidak merasa kerepotan lagi menyusui si kecil. PG




    Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s



%d bloggers like this: