Gendong, Tidak, Gendong…

parent-guide.jpg

Terlalu sering menggendong konon bisa bikin bayi ‘bau tangan’ atau manja. Tapi kalau tidak digendong, kasihan si kecil, dong…

“Jangan keseringan digendong, nanti ‘bau tangan’!” Itu salah satu nasihat yang kerap diberikan kepada orangtua yang baru punya bayi. Istilah ‘bau tangan’ menggambarkan bayi yang terbiasa ‘kena tangan’ (digendong, didekap, ditimang, disentuh) sehingga hanya merasa nyaman bila diperlakukan demikian. Banyak juga yang menganggap bayi ‘bau tangan’ sebagai bayi manja.

Soal ‘Bau Tangan’ dan ‘Pemanjaan’
Pam Leo, seorang parent educator di Gorham, Maine, Amerika Serikat mengungkapkan, beberapa penelitian menunjukkan bahwa bayi-bayi yang digendong sepanjang waktu, dan terpenuhi semua kebutuhan-atas-sentuhannya sepanjang tahun pertama, ternyata tidak menjadi bayi yang lengket atau terlalu tergantung pada orang – alias ‘bau tangan’. Sebaliknya bayi-bayi tersebut lebih jarang menangis, tumbuh lebih bahagia, lebih cerdas, lebih mandiri, lebih penuh kasih dan lebih ramah ketimbang bayi-bayi yang kebanyakan ditaruh di kursi, di buaian, di tempat tidur atau di alat bantu lainnya yang tak memerlukan kontak dengan manusia.

James W. Prescott, Ph.D – psikolog syaraf perkembangan dan psikolog lintas-budaya, sekaligus direktur Institute of Humanistic Science, Amerika Serikat – pernah meneliti soal pengasuhan anak lintas-budaya. Hasilnya: negara-negara yang paling tidak ‘bengis’ adalah negara-negara di mana bayi-bayinya terus menerus digendong ibu atau pengasuhnya. Di Amerika Serikat sendiri, menurut Pam, para orangtua selama beberapa dekade diajar meyakini bahwa terlalu banyak menggendong bayi akan ‘memanjakan’nya, meski di banyak negeri lain bayi-bayi digendong seharian sampai mereka bisa berjalan. Akibatnya? Amerika Serikat paling tinggi tingkat kejahatan dan kekerasannya di dunia, dan paling rendah di dunia untuk jumlah bayi yang digendong terus-terusan…

Membangun Kepercayaan
Menggendong ternyata lebih dari sekedar memberi bayi ‘kenyamanan’ berupa suara detak jantung, suara kita, serta sentuhan dan kehangatan tubuh. “Menurut penelitian James Prescott, rangsangan cerebellar-vestibular (otak bagian depan, Red) – yang terjadi saat kita menggendong bayi – adalah sistem indera paling penting untuk pengembangan ‘basic trust’ dalam ikatan cinta kasih ibu dan bayi. Rangsangan ini membentuk pondasi psikologis dan biologis bagi semua hubungan manusia lainnya,” ungkap Pam yang juga childbirth educator ini.

Menggendong bayi juga diyakini sebagai bagian vital dari rencana biologis alam dalam menciptakan ikatan kasih sayang ibu-bayi, serta amat penting bagi pengembangan kepercayaan, empati, belas kasih dan hati nurani bayi. Menurut Pam, ada tiga ‘desain biologis’ bagi pengembangan fisik, intelektual dan emosi manusia yang optimal: memastikan bayi terus menerus kontak dengan manusia, menyusui sesuai kemauan bayi, dan menggendong bayi. “Penelitian menegaskan: menggendong bayi manusia mengembangkan kecerdasan dan kapasitas bayi dalam hal kepercayaan, kasih sayang, keintiman, cinta dan kebahagiaan.”

Tergantung Kebutuhan Bayi
Karen Sokal-Gutierrez, MD, staf pengajar School of Public Health, University of California Berkeley mengatakan, bayi di bawah usia 3 bulan memang ‘needy’, dan menangis adalah cara bayi mengungkapkan kebutuhannya. Berbagai kajian ilmiah menunjukkan, ketika bayi-bayi menangis segera digendong dan diperhatikan kebutuhannya, timbullah perasaan aman. Stres dan kecemasannya berkurang dan akhirnya, bayi menangis lebih sedikit. Jadi, “Menggendong bayi yang menangis itu bagus – tidak akan memanjakannya,” simpul Gutierrez seperti dikutip dari ulasannya dalam fisher-price.com.

Lebih lanjut, Gutierrez yang juga Ketua Komisi Early Childhood Adoption and Dependent Care pada American Academy of Pediatrics ini menjelaskan, beberapa dokter ahli anak menyebut periode 3 bulan pertama hidup bayi sebagai ‘trimester keempat kehamilan’. Bayi-bayi muda akan merasa lebih nyaman di dalam lingkungan yang mirip rahim – tempat di mana mereka selalu didekap erat, selalu hangat dan diayun-ayun. Maka secara alamiah mereka merasa aman dan nyaman jika digendong, dibedong dan ditimang. Tapi setelah usia tiga bulan, bayi-bayi ingin sedikit mandiri. Mereka masih senang digendong,

tapi kadang tertarik juga mengamati dan menjelajah sekitar. Jadi, sesekali tidak digendong bagus untuk perkembangan bayi. Bayi usia 4 bulan bisa ditelentangkan supaya menggerak-gerakkan lengan dan menjangkau kakinya. Atau ditengkurapkan supaya berlatih mengangkat kepala dan dada – ini membantu bayi belajar berguling dan merangkak.

Bagaimana kita bisa tahu kapan bayi ingin digendong, dan kapan ingin sendiri? “Sambil membiasakan dengan isyarat-isyarat bayi, Anda akan belajar kapan bayi puas mengamati dunia atau bermain sendiri, dan kapan bayi perlu digendong.” Itulah ‘jaminan’ Gutierrez. PG

Tiap Bayi dan Orangtua Berbeda!

Masih bimbang soal positif-negatif sering menggendong bayi? Silakan pertimbangkan pesan Karen Sokal-Gutierrez, MD. Menurutnya, tiap bayi dan orangtua itu beda. Ada bayi yang perlu segudang perhatian, ada yang senang tidur melulu atau main sendiri. Ada orangtua yang tak bosan-bosannya menggendong bayi, ada yang ingin bayinya belajar ‘mandiri’ alias bermain dan tidur sendiri. Budaya yang berbeda punya kebiasaan berbeda pula soal berapa banyak bayi harus digendong atau dibiarkan sendiri. Para orangtua perlu menetapkan apa yang cocok dan paling memungkinkan untuk mereka dan bayinya. Intinya, pede saja! 
 




    Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s



%d bloggers like this: