Bonding Itu Ternyata Sederhana

parent-guide.jpg
Ikatan kasih sayang antara bayi dengan ibu ternyata dapat berkembang melalui hal-hal sederhana.

Apakah sebenarnya bonding – ikatan kasih sayang antara ibu dan bayi – itu? Michael Mendizza, rekan-penulis buku Magical Parent-Magical Child, the Optimum Learning Relationship, pendiri sekaligus direktur pelaksana Touch the Future – organisasi nirlaba bidang anak dan pengembangan manusia, menyebut bonding ‘hubungan yang tercermin-timbal balik’, dan menggambarkannya sebagai berikut dalam situs Touch the Future:

“Selama kehamilan, kelahiran dan sesudahnya, jika tidak terganggu oleh sesuatu, alam mempertautkan bioritmik, frekuensi jantung, keseimbangan hormon, pola tidur dan ribuan sistem-hidup ibu dan bayinya ke dalam pola-pola yang terikat timbal balik. Bayi memberi rangsangan yang akurat bagi ibu untuk membuka dan mengembangkan kapasitas-kapasitas baru, dan ibu pun melakukan hal yang sama untuk bayi. Bahasa mereka adalah non-verbal, sensasi dan perasaan.”

Bonding memungkinkan terjadinya pertukaran pengalaman pancaindera, pertukaran zat-zat gizi dan pertukaran informasi yang diperlukan untuk perkembangan otak secara sehat dan normal.

Mengembangkan Bonding
Alam berharap bonding akan berkembang. Untuk alasan inilah, menurut Mendizza, alam ‘menempatkan’ bayi di dekat tubuh dan payudara ibunya. Perhatikanlah betapa sederhananya prinsip alam dalam mengembangkan bonding – dekatkan bayi ke tubuh dan payudara ibunya, titik!

James W. Prescott, Ph.D, psikolog syaraf perkembangan dan psikolog lintas-budaya dari Insititute of Humanistic Science, Amerika Serikat, menyusun Ten Principles of Mother-Infant Bonding for Health, Happiness and Harmony. Kesepuluh prinsip tersebut berisi anjuran-anjuran untuk membantu bonding ibu-bayi dapat berkembang baik dan tidak terganggu. Penelitian Dr. Prescott, dkk. sejak 1960-1980 menemukan, kurangnya atau tak adanya kontak intim penuh kasih sayang antara para ibu dan bayinya selama periode paling peka dalam perkembangan otak dapat menyebabkan ketidaknormalan otak permanen yang terkait dengan pola-pola depresi, kekerasan, gangguan makan, agresi dan kekerasan pada anak dan orang dewasa.

Anjuran-anjuran Dr. Prescott untuk membantu mengembangkan bonding pada dasarnya amat sederhana dan alamiah. Berikut ini beberapa di antaranya:

  1. ‘Inginkanlah’ bayi kita. “Tiap kehamilan adalah kehamilan yang diinginkan. Tiap anak adalah anak yang diinginkan.” Demikian prinsip Dr. Prescott. Jika kita menginginkan bayi kita, secara alamiah akan muncul emosi-emosi positif terhadap bayi. Misalnya rasa memiliki, ingin merawat, menjaga, mengasihi, menyayangi dan mencintainya.
  2. Susui bayi sesuai keinginannya dan lanjutkan sampai 2 tahun atau lebih seperti anjuran Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan UNICEF, itulah saran Dr. Prescott. Menurut konsultan menyusui dr. Utami Roesli, SpA, IBCLC dalam bukunya ‘Mengenal ASI Eksklusif’, bayi yang menyusu sering berada dalam dekapan ibu, sehingga akan merasakan kasih sayang ibunya. Kegiatan menyusui akan memicu pengeluaran hormon prolaktin yang menimbulkan perasaan keibuan yang sangat mendalam pada kita. Sedangkan untuk bayi, perekaman ‘kode’ bau tubuh ibu di dalam otak bayi yang sedang berkembang melalui kegiatan menyusui sangat penting untuk perkembangan kehidupan seksualitas yang intim saat anak dewasa kelak.
  3. Sering-seringlah menggendong bayi di tahun pertama. Dr. Prescott menyatakan, “Kontak tubuh yang intim antara ibu dan bayi baru lahir/bayi akan terpelihara jika ibu menggendong bayinya ke mana-mana terus menerus selama tahun pertama hidup bayi.” Tidur bersama sampai bayi usia 2 tahun atau lebih dan pijat bayi juga dapat mengoptimalkan kontak tubuh. Kebersamaan fisik yang intens ini akan membuat bayi kita merasa sangat dekat dengan kita, dan kita pun merasa dibutuhkan oleh bayi.
  4. Tenangkan segera jika bayi menangis. Menangis adalah satu-satunya cara bayi menyatakan ketidaknyamanan, ketakutan, dan kebutuhannya atas sesuatu. Jika kita segera menanggapi tangisannya, bayi akan merasa diperhatikan, dilindungi dan disayangi. Sementara itu bagi kita, seringnya menanggapi tangis bayi akan melatih kepekaan kita terhadap kebutuhan bayi. Tiap keberhasilan kita menenangkan bayi akan menumbuhkan perasaan ‘dibutuhkan’ oleh bayi di dalam diri kita.
  5. Sering-seringlah memeluk bayi dan jangan pernah memukulnya untuk alasan apapun. Bayi yang sering didekap dan dipeluk tidak hanya akan merasa selalu disayang, tapi juga merasa aman dan tenteram karena sering mendengar detak jantung kita yang telah dikenalnya sejak masih di dalam kandungan.
  6. Jangan pernah mempermalukan bayi atau menyakitinya secara emosional untuk alasan apapun. Jika bayi selalu menyaksikan kita bersikap baik terhadapnya, baik saat berdua saja atau di depan orang lain, ia akan selalu merasa dicintai, dikasihi, disayangi dan dihormati keberadaannya.
  7. Hargailah potensi keibuan kita dan jangan gantikan posisi kita dengan institusi penitipan anak. Jika kita telah memutuskan untuk mengasuh sendiri bayi kita, carilah dukungan dari orang tedekat, atau siapa saja agar percaya diri kita bertambah. Percaya diri memudahkan kita melakukan tugas merawat bayi. Keberhasilan merawat bayi membuat kita bangga dan makin menginginkan bayi. Di sisi lain, bayi pun makin dekat dengan kita karena intensitas kontak mereka yang tinggi dengan kita tiap hari selama berbulan bahkan bertahun-tahun.
    Bonding yang manfaatnya amat dahsyat itu ternyata begitu sederhana. Semoga kita makin termotivasi melakukannya. PG



    Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s



%d bloggers like this: