Bayi Laki-laki Lebih ‘Rakus’?

parent-guide.jpg

Bayi laki-laki sering dianggap lebih ‘rakus’ menyusu. Benarkah?

“Bayi saya banyak sekali menyusunya. Lihat tuh, mengisapnya cepat sekali.…”
“Yah, bayi laki-laki memang begitu.… ”
Jika ada orangtua mengatakan bayi laki-lakinya menyusu lebih sering dan lebih lama, mengisap lebih kuat, serta menelan lebih cepat “sampai suara tegukannya terdengar cegluk-cegluk”, kita segera memakluminya. Sebab, bayinya laki-laki. Benarkah bayi laki-laki menyusu seperti itu – lebih banyak dan lebih ‘rakus’ – dibanding bayi perempuan?

‘Harus Tumbuh Lebih Besar’
Para peneliti Harvard School of Public Health pernah mengamati pola makan 244 ibu hamil di sebuah rumah sakit besar di Boston, Amerika Serikat. Mereka menemukan bahwa semua ibu yang mengandung bayi laki-laki mengkonsumsi asupan energi 10% lebih tinggi dibanding ibu yang mengandung bayi perempuan. Perinciannya: protein 8% lebih tinggi, karbohidrat 9% lebih tinggi, lemak hewani 11% lebih tinggi dan lemak nabati 15% lebih tinggi. Menurut para peneliti tersebut, janin laki-laki mungkin mengeluarkan

semacam zat kimia dari testisnya yang sedang berkembang – zat inilah yang merangsang ibu meningkatkan asupan energi. Penemuan yang dipublikasikan British Medical Journal dan diberitakan BBC News pertengahan tahun 2003 ini dianggap mendukung teori yang mengatakan bahwa “mengandung bayi laki-laki menyerap energi ibu lebih banyak”.
Kepala tim peneliti, Profesor Dimitrios Trichopoulos menjelaskan, akibat mengkonsumsi asupan energi lebih tinggi janin laki-laki cenderung tumbuh lebih besar dibanding janin perempuan. Ketika lahir pun, bayi laki-laki rata-rata lebih berat 100 gram dibanding bayi perempuan. Trichopoulos menduga, laki-laki memang harus lebih besar badannya dibanding perempuan untuk alasan-alasan evolusioner – misalnya bersaing dengan sesamanya untuk mendapatkan wanita yang mereka senangi. Fenomena ini berawal di dalam rahim.

Masalahnya, apakah setelah lahir bayi laki-laki masih menghasilkan zat tertentu yang merangsang peningkatan asupan bagi dirinya sendiri? Sayang sekali penelitian ini tidak membahasnya.

Growth Spurt
Menurut literatur menyusui, bayi yang kelihatan sangat lapar (ingin disusui lebih sering) selama beberapa hari diduga sedang ‘tumbuh lebih cepat’ dibanding hari-hari sebelumnya (mengalami growth spurt). Kejadian ini paling sering terjadi saat bayi berusia 2 minggu, 6 minggu dan 3 bulan, tapi bisa juga terjadi pada waktu-waktu lainnya.
Selanjutnya, isapan yang lebih sering saat bayi mengalami growth spurt selama beberapa hari membuat pasokan ASI akan meningkat. Berlimpahnya ASI ini membuat rasa lapar bayi terpuaskan, sehingga ia menjarangkan lagi kegiatan menyusu dan kembali ke pola menyusu sebelumnya. Artinya, ‘kerakusan’ akibat growth spurt tidak berlangsung terus menerus.

Nah, mungkinkah bayi laki-laki mengalami growth spurt lebih sering dan lebih lama dibandingkan bayi perempuan, sehingga terkesan selalu lapar dan rakus menyusu? Mungkin saja. Yang lebih pasti adalah: payudara ibu akan menghasilkan air susu sesuai kebutuhan bayi. Jadi, seberapa rakus pun si buyung menyusu, ia tak akan kekurangan ASI. Dengan catatan, ia benar-benar pandai mengosongkan payudara ibunya! PG 





    Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s



%d bloggers like this: