ASI Kurangi Khasiat Obat Bayi?

parent-guide.jpg

Ada anggapan, ASI akan mengurangi khasiat obat yang dikonsumsi bayi. Benarkah?

Selain sebagai minuman sehat, susu juga dianggap sebagai penawar racun. Itulah sebabnya, terhadap korban keracunan lewat mulut, orang kadang memberi pertolongan pertama dengan meminumkan segelas susu (dalam hal ini susu hewan). Bagaimana dengan susu manusia alias air susu ibu (ASI)?

* Tingkatkan Efektivitas Antibiotika

Mengacu pada sifat susu sebagai penawar racun, sebagian orangtua mempertanyakan efektivitas pemberian obat-obatan oral (lewat mulut) kepada bayi yang belum mengkonsumsi apapun selain ASI. “Jangan-jangan jadi kurang manjur karena kandungan obatnya dinetralisir oleh ASI!”

Menanggapi kekuatiran semacam ini, Ketua Sentra Laktasi Indonesia, dr. Utami Roesli, Sp.A. menegaskan bahwa tidak benar ASI mengurangi efektivitas obat-obatan yang diberikan terhadap bayi. “ASI terhadap obat-obatan yang diperuntukkan bagi bayi prinsipnya seperti zat alami terhadap zat sintetis (buatan)-nya. Tidak mengganggu, bahkan membantu,” terangnya.

Ia mencontohkan obat antibiotika yang diberikan kepada bayi ASI Eksklusif yang di dalam tubuhnya terdapat kuman streptokokus. “ASI yang diminum bayi mengandung antibiotika alami untuk melawan streptokokus yang berasal dari tubuh ibunya. Sementara obat yang dikonsumsi bayi mengandung antibiotika sintetis untuk melawan kuman dalam ragam yang luas (board spectrum). Dengan demikian, ASI justru meningkatkan efektivitas obat antibiotika,” papar dr. Utami.

* Pengaruhi Imunisasi

Selain itu, ada juga yang mengatakan bahwa ASI dapat mengurangi efektivitas imunisasi pada bayi. Hal ini diungkap pula oleh dr. Utami. “Ada yang mengatakan bahwa pemberian ASI setelah imunisasi polio dikuatirkan akan melemahkan vaksin polio yang dimasukkan ke dalam tubuh bayi, sehingga imunisasi tidak efektif.”

Meski demikian, trainer konselor laktasi dan pijat bayi bersertifikat internasional itu menambahkan, kalangan yang menguatirkan efek ASI terhadap vaksin polio tetap mengatakan bahwa pemberian ASI setelah imunisasi polio tidak dilarang. “Mereka bilang tidak apa-apa,” tegas dr. Utami.

Jadi, kondisi apa pun yang mengharuskan bayi diberi obat-obatan atau imunisasi hendaknya tidak membuat orangtua menghentikan pemberian ASI Eksklusif sampai 6 bulan, dan melanjutkan pemberian ASI bersama makanan padat sampai usia 2 tahun. “Bayi yang mendapat ASI Eksklusif masih jauh lebih baik kondisinya dibanding bayi yang tidak mendapat ASI Eksklusif,” demikian dr. Utami. PG




    Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s



%d bloggers like this: