Menyusui bisa menunda kehamilan ?

parent-guide.jpg
Katanya, menyusui bisa menunda kehamilan baru. Tapi mengapa banyak ibu menyusui kebobolan?

Fitria (25 tahun) terhenyak. Ia hamil lagi! Padahal si kecil Fira baru berumur 3 bulan. Semua orang, termasuk orangtuanya, keheranan. “Katanya kalau menyusui nggak cepat hamil lagi?”

Banyak ibu menyusui ‘hamil tak direncanakan’. Maka, mereka yang sebelumnya yakin menyusui bisa mencegah kehamilan jadi ragu: benarkah menyusui adalah metode kontrasepsi alami? Mitos bahwa menyusui tak bisa diandalkan untuk mencegah kehamilan pun makin diyakini kebenarannya. Sebenarnya, seberapa efektifkah menyusui dalam mencegah kehamilan?

LAM, Si Kontrasepsi Alami
Menyusui saja tidak bisa diandalkan untuk mencegah kehamilan – adalah mitos paling umum seputar kontrasepsi untuk ibu menyusui. Demikian menurut Dr. Victoria Nichols-Johnson, Associate Professor pada Divisi Obgyn Umum di Southern Illinois University, Springfield, Amerika Serikat.

Mitos itu tidak benar. Metode pencegahan kehamilan dengan menyusui dikenal dengan istilah LAM (Lactational Amenorrhea Method – metode penghentian haid dengan menyusui). Dan seperti diungkap Dr. Nichols-Johnson dalam ulasannya pada Breastfeeding Abstracts, November 2001, LAM terbukti lebih dari 98% efektif, dan telah digunakan secara luas di berbagai keadaan, budaya, kelompok sosial-ekonomi dan fasilitas kesehatan. Metode ini telah diakui sebagai pilihan yang tepat bagi ibu-ibu yang menginginkan metode kontrasepsi alami, atau ibu yang tidak menghendaki pengobatan hormonal di bulan-bulan awal setelah melahirkan lantaran harus menyusui bayi.
Efektif, Asal…

Sejauh syarat-syaratnya dipenuhi, menurut Dr. Nichols-Johnson yang juga anggota pendiri Academy of Breastfeeding Medicine, LAM akan efektif mencegah kehamilan. Apa sajakah syaratnya?

  • Bayi tidak boleh menerima makanan tambahan atau formula bayi buatan
  • Usia bayi tidak lebih dari 6 bulan
  • Ibu belum mengalami haid lagi sejak setelah melahirkan.
    Mengapa ketiga syarat di atas harus dipenuhi? Dr. Nichols-Johnson menjelaskan, ibu yang tidak menyusui bisa mengalami ovulasi (pembentukan sel telur) 3 minggu setelah persalinan. Sedangkan pada ibu yang sering menyusui dan belum mendapatkan haid kembali setelah persalinan, risiko ovulasi sangat kecil, yaitu kurang dari 2%. Kenapa demikian? Ternyata dengan sering menyusui dan atau memompa air susu, kadar hormon prolaktin dalam tubuh ibu akan meningkat. Peningkatan hormon prolaktin inilah yang akan menekan aliran hormon pemicu ovulasi.

Di usia 6 bulan, bayi mulai mendapat makanan/minuman selain ASI. Otomatis frekuensi menyusu akan berkurang, dan ovulasi lebih mungkin terjadi. Itulah sebabnya, LAM tidak efektif untuk ibu yang memberi makanan pendamping ASI, baik itu sebelum usia 6 bulan maupun sesudahnya. Seandainya ibu tersebut tetap ingin menunda kehamilan, ia harus memakai metode kontrasepsi tambahan. Demikian saran Dr. Nichols-Johnson. Bagaimana, sudah lebih mantap ber-KB dengan menyusui? PG




    Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s



%d bloggers like this: